Salam Sejahtera dalam Tuhan Kita Yesus Kristus! melalui Blog Rohani Katholik ini saya ingin berbagi hal-hal Rohani baik berupa Renungan harian, cerita-cerita inspiratif dan sharing pengalaman yang kiranya dapat menumbuhkan dan meningkatkan iman kita bersama sebagai pengikut Kristus.Renungan-renungan ditulis oleh Pihak-pihak yang kompeten dibidangnya, bisa oleh Para Uskup, para Imam dlsb. Semoga bermanfaat. Salam dan Berkatku Rm. Klemens Bere. PR
Kamis, 13 Desember 2012
“Kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya”
(2Kor 10:17-11:2; Mat 25:1-13)
"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."(Mat 25:1-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Lusia, perawan dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Hidup dan bertindak secara bijak dan syukur bijaksana kiranya merupakan dambaan semua orang, lebih-lebih para pemimpin atau atasan dalam hidup bersama. Warta Gembira hari ini memberitakan perihal kebijaksanaan dengan perumpamaan sepuluh gadis, dimana lima bijaksana dan lima tidak bijaksana. Digambarkan bahwa mereka sedang menantikan kedatangan penganten, namun lama menunggu tidak datang-datang, maka mengantuklah mereka dan tertidur pulas. Tiba-tiba tengah tidur pulas penganten pun datang, dan mereka yang tidak persiapan dengan baik tak mampu menyambut kedatanganNya. Persiapan memang penting dalam hidup dan bertindak kita, konon dikatakan bahwa orang yang mempersiapkan diri dengan baik dan memadai, maka sukeslah apa yang dicita-citakan atau harapkan. Dengan ini kami berharap kepada anda sekalian: hendaknya dalam mengerjakan segala sesuatu yang menjadi tugas dan kewajiban, kita mengadakan persiapan yang baik dan memadai. Bagi kita semua marilah kita sadari dan hayati bahwa kematian kita masing-masing akan terjadi, tak seorang pun dari kita yang mengetahuinya. Hidup ini adalah persiapan untuk mati, pindah dari dunia fana yang sementara ke dunia baka yang abadi. Persiapan untuk itu yang baik adalah senantiasa berusaha menghayati panggilan dan melaksanakan tugas pengutusan sebaik dan seoptimal mungkin. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan masa depan kita, maka marilah hari ini kita hidup dan bertindak sebaik mungkin. Jauhkan aneka bentuk kemalasan dan hidup seenaknya hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi.
· “Barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan” (2Kor 10:17-18). Bermegah antara lain bergembira ria dan bersenang-senang, dan kiranya hal ini juga menjadi dambaan dan kerinduan semua orang. Kita semua dalam bersenang-senang hendaklah senantiasa ‘di dalam Tuhan’ , tidak seenaknya hanya mengikuti nafsu duniawi, seperti mabuk-mabukan, apalagi kenikmatan yang terkait dengan seks alias berhubungan seks bebas, yang akan berakibat kesengsaraan dan penderitaan yang tak kunjung henti. Jika hari ini kita mengenangkan pesta St.Lusia, perawan dan martir, maka perkenankan kami mengajak rekan-rekan muda-mudi atau remaja untuk senantiasa berusaha mempertahankan ‘keperawanan’, yang berarti entah laki-laki atau perempuan hendaknya tidak terjebak pada hubungan seks bebas. Untuk itu dalam pergaulan hendaknya menghadirkan diri sesopan mungkin dan jangan menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga merangsang lawan jenis untuk bertindak jahat atau amoral. Memang pertama-tama dan terutama kami berharap pada rekan-rekan perempuan yang masih gadis untuk senantiasa berpakaian sopan, dan jangan menghadirkan diri atau berpakaian yang mengudang rekan-rekan laki-laki, apalagi si hidung belang, untuk melakukan yang tak senonoh, entah dalam hatinya maupun dalam tindakannya: secara pribadi berarti langsung beronani atau bermasturbasi, sedangkan secara sosial, jika tak mungkin berhubungan seks dengan anda, maka yang bersangkutan tergerak untuk ke pelacuran.
“Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia” (Mzm 31:3-6)
Ign 13 Desember 2012
*) Sumber Millis KD
Rabu, 12 Desember 2012
“Kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan”
(Yes 40:25-31; Mat 11:28-30)
“ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Kutipan Warta Gembira hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk setia dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan; dan dalam pelaksanaannya hendaknya dijiwai dengan keutamaan lemah lembut dan rendah hati. “Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”, demikian sabda Tuhan. Yang dimaksudkan dengan ‘kuk’ bagi kita masing-masing tidak lain adalah panggilan Tuhan secara pribadi bagi kita, sedangkan ‘beban-KU’ adalah aneka tuntutan dan tuntunan yang dibutuhkan dalam rangka menghayati panggilan. Dengan kata lain kita semua pertama-tama diajak untuk mawas diri perihal panggilan kita masing-masing: imam, bruder, suster, suami-isteri maupun mereka yang merasa terpanggil ke arah hidup terpanggil tersebut alias calon-calon imam, bruder, suster dan suami-isteri. Dalam Tahun Iman ini kita diajak untuk kembali ke ajaran-ajaran Gereja Katolik yang benar. Maka baiklah saya kutipkan dari KHK teks yang terkait dengan panggilan masing-masing, sebagai berikut: (1) “Para klerikus hendaknya dengan cukup hati-hati bergaul dengan orang-orang tertentu, jika pergaulan dengan mereka dapat membahayakan untuk memelihara tarak atau dapat menimbulkan batu sandungan bagi kaum beriman” (KHK kan 277 $ 2), (2) “Para religious hendaknya menjadikan hal mengikuti Kristus seperti dinyatakan dalam Injil dan juga diungkapkan dalam konstitusi tarekatnya sebagai hukum tertinggi hidupnya”, (3)“Perjanjian perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan seluruh hidup, yang menurut ciri kodratnya terarah pada kesejahteraan suami-isteri serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen” (KHK kan 1055 $ 1)
· “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes 40:29-31). Kutipan ini kiranya baik untuk menjadi permenungan atau refleksi bagi rekan muda-mudi. Apakah anda sebagai muda-mudi merasa lelah dan lesu, tak bergairah dalam hidup dan tugas, karena harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan? Jika demikian adanya, maka arahkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh anda kepada Tuhan, karena Ia pasti akan menganugerahkan kekuatan baru dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, sehingga anda senantiasa hidup dan bertindak dalam Tuhan. Jika anda sungguh hidup dan bertindak dalam Tuhan, maka percayalah bahwa anda pasti akan mampu mengatasi aneka masalah, tantangan dan hambatan, anda akan menjadi kuat bagaikan “rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya”. Tanda bahwa anda hidup dan bertindak dalam Tuhan antara lain anda tidak melupakan hidup doa harian, senantiasa melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Kami berharap rekan-rekan muda-mudi tidak terjebak pada aneka kenikmatan duniawi yang menyesatkan, entah itu terkait dengan kenikmatan seks, minuman keras, aneka jenis narkoba, dst…Jagalah dan rawatlah diri anda sebagai orang muda tetap suci, bersih, bebas dari aneka dosa dan noda. Kepada anda yang sedang berpacaran kami harapkan tetap berpegang teguh pada norma-norma atau nilai-nilai moral. Demikian juga kepada anda yang telah terikat dalam pertunangan, hendaknya berusaha semakin membuka diri, sehingga kelak siap sedia untuk saling mengikat sebagai suami-isteri sampai mati.
“Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm 105:1-4)
Ign 12 Desember 2012
*) Sumber Millis KD
Selasa, 11 Desember 2012
“Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang”
(Yes 40:1-11; Mat 18:12-14)
"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang." (Mat 18:12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Penyelamat Dunia yang kita nantikan kedatanganNya, datang ke dunia untuk menyelamatkan yang hilang atau memperhatikan mereka yang kurang diperhatikan. Maka baiklah kita yang menantikan kedatanganNya hendaknya sedini mungkin juga berusaha untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Apa yang hilang dari kita? Mungkinkah kita telah melupakan saudara-saudari kita yang seharusnya kita perhatikan, atau ada kemungkinan, dengan memperhatikan masih maraknya kemerosotan moral masa kini, kita melupakan spiritualitas atau karisma hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Mungkinkah sebagai biarawan-biarawati atau anggota Lembaga Hidup Bakti hidup dan bertindak seenaknya sendiri dan tidak sesuai dengan karisma pendiri? Mungkinkah sebagai suami-isteri telah melupakan cintakasih sebagai ikatan hidup bersama? Maka pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan segenap anggota Lembaga Hidup Bakti, di Tahun Iman ini, marilah kita bersama-sama memperbaharui diri dalam hal hidup dan bertindak sesuai dengan karisma pendiri. Kepada rekan-rekan suami-isteri kami harapkan juga memperbaharui diri dalam hidup saling mengasihi, baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Kepada kita semua kami ajak untuk mengingat-ingat apakah ada orang atau pribadi yang seharusnya kita perhatikan dan kurang memperhatikan? Adakah kita masih bermusuhan dengan atau memusuhi seseorang, jika ada hendaknya segera kita berdamai dengannya, dan jika mereka bersalah kita ampuni, sebaliknya jika kita salah hendaknya dengan rendah hati mohon kasih pengampunan dari yang bersangkutan.
· "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya." (Yes 40:3-5). Kutipan ini kiranya yang diulangi oleh Yohanes Pembaptis, Bentara Penyelamat Dunia, dalam melaksanakan tugas panggilannya untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Penyelamat Dunia. Apa yang diserukan oleh Yesaya tidak lain adalah ajakan untuk bertobat alias dengan jujur dan terbuka sepenuhnya kita membuka diri kita. Jika kita sungguh membuka diri dengan jujur dan benar kiranya masing-masing dari kita harus meluruskan aneka cara hidup dan cara bertindak yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. “Kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama”, inilah kiranya yang menjadi dambaan atau kerinduan kita semua, umat beriman: kita semua, umat beriman mendambakan melihat kemuliaan Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak kita, sehingga semua orang senantiasa memuliakan Tuhan, hidup dan bertindak dengan motto “AMDG” (=Ad Maiorem Dei Gloriam = Demi bertambah besarnya kemuliaan Tuhan atau Tuhan semakin dimuliakan). Semoga tak akan ada seorangpun di antara umat beriman hanya memuliakan atau mengutamakan diri sendiri tanpa memuliakan Tuhan sedikitpun. Senantiasa memuliakan Tuhan dalam dan melalui cara hidup serta cara bertindak berarti senantiasa mengimani Tuhan yang berkarya dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya. Dengan demikian antar kita semua juga akan saling memuliakan serta meninggalkan sikap mental egois, yang hanya mengutamakan atau mengedepankan kepentingan pribadi melulu.
“ Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.” (Mzm 96:1-3)
Ign 11 Desember 2012
*) Sumber Millis KD
Langganan:
Postingan (Atom)