Salam Sejahtera dalam Tuhan Kita Yesus Kristus! melalui Blog Rohani Katholik ini saya ingin berbagi hal-hal Rohani baik berupa Renungan harian, cerita-cerita inspiratif dan sharing pengalaman yang kiranya dapat menumbuhkan dan meningkatkan iman kita bersama sebagai pengikut Kristus.Renungan-renungan ditulis oleh Pihak-pihak yang kompeten dibidangnya, bisa oleh Para Uskup, para Imam dlsb. Semoga bermanfaat. Salam dan Berkatku Rm. Klemens Bere. PR
Jumat, 31 Agustus 2012
“Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.”
(1Kor 1:17-25; Mat 25:1-15)
"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.” (Mat 25:1-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Bodoh dan bijaksana dalam hal hidup beriman atau beragama hemat saya lebih erat kaitannya dengan hati daripada otak, dengan kata lain bijaksana merupakan cirikhas hidup orang baik, berbudi pekerti luhur atau bermoral. Kita semua kiranya mendambakan diri tumbuh berkembang menjadi pribadi yang bijaksana, maka marilah kita perhatikan pembinaan atau pendampingan hati, jiwa dan akal budi kita. Memang kesehatan dan kebugaran fisik juga penting, karena ketika tubuh kita sehat dan bugar kiranya kita akan mendapat kemudahan untuk mengembangkan dan memperdalam hati, jiwa dan akal budi. Maka marilah pertama-tama kita berusaha menjaga kesehatan dan kebugaran fisik kita, yang memang di dalamnya secara inklusif kita juga memperhatikan jiwa, hati dan akal budi kita. Tumbuh-berkembang menjadi bijaksana juga erat kaitannya dengan ‘talenta’ yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, entah itu berupa kesehatan, keterampilan, kebugaran, kecerdasan dst.., maka jika kita mendambakan diri kita tumbuh berkembang menjadi pribadi yang bijaksana hendaknya mengembangkan dan memperdalam talenta yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita. Segala macam dan bentuk talenta ketika dikembangkan serta disumbangkan kepada orang lain tidak akan berkurang, melainkan akan bertambah dan semakin mendalam dan handal. Usaha untuk bijaksana juga perlu disertai dengan doa atau kehidupan rohani yang baik dan memadai, maka hendaknya jangan melupakan hidup doa atau hidup rohani sehari-hari.
· “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” (1Kor 1:22-24). Orang-orang Yahudi lebih menekankan adat-istiadat dan orang-orang Yunani lebih menekankan logika atau pikiran, yang pada hemat saya keduanya sungguh sangat terbatas untuk memahami kebijaksanaan dan kekuatan serta rahmat atau hikmat Allah. Kekuatan dan hikmat Allah bagi orang yang beriman pada Yesus Kristus adalah ‘Salib’. Ingatlah dan sadari bahwa kita sering membuat tanda salib, tanda salib kita buat dalam mengawali dan mengakhiri doa atau pekerjaan, dengan harapan kita akan melakukan segala sesuatu dengan semangat Yang Tersalib, yaitu dengan membaktikan diri seutuhnya pada apa yang ditugaskan atau diwajibkan bagi kita sebagai umat beriman atau beragama. Maka marilah kita bekerjasama, saling membantu dalam membaktikan diri dalam tugas, pekerjaan dan tugas pengutusan. Untuk itu jelas tak akan terlepas dari aneka penderitaan dan perjuangan, sebagai konsewensi dari kesetiaan dan ketaatan pada tugas, pekerjaan dan tugas pengutusan. Marilah kita tinggalkan adat-istiadat yang tidak sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan zaman maupun cara berpikir yang tidak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Jauhkan juga cara berpikir yang hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi.
“ (Berbantahlah, TUHAN, melawan orang yang berbantah dengan aku, berperanglah melawan orang yang berperang melawan aku! Peganglah perisai dan utar-utar, bangunlah menolong aku, Biarlah mendapat malu dan kena noda, orang-orang yang ingin mencabut nyawaku; biarlah mundur dan tersipu-sipu orang-orang yang merancang kecelakaanku! Biarlah mereka seperti sekam dibawa angin, didorong Malaikat TUHAN”
(Mzm 35:1-2.4-5)
Ign 31 Agustus 2012
*) Sumber Millis KD
“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana”
(1Kor 1:1-9; Mat 24:42-51)
“ Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” (Mat 24:42-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Sabda hari ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa sewaktu-waktu, kapan saja, kita dapat dipanggil Tuhan alias meninggal dunia, dan kita diharapkan senantiasa siap sedia dipanggil Tuhan. Tentu saja kita semua mendambakan ketika dipanggil Tuhan langsung menikmati hidup bahagia dan mulia selamanya di sorga, maka marilah kita hidup dan bertindak menunjukkan bahwa kita sungguh siap sedia dipanggil Tuhan. Untuk itu kita hendaknya setia melaksanakan tugas pengutusan dan kewajiban atau menghayati panggilan. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah diikat. Ini diwujudkan dalam perilaku tetap memilih dan mempertahankan perjanjian yang telah dibuat dari godaan-godaan lain yang lebih menguntungkan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24-25). Tak bosan-bosannya saya mengangkat makna setia ini, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak atau kurang setia pada janji yang telah dibuat atau diikrarkan. Perkenankan pertama-tama saya mengingatkan mereka yang hidup berkeluarga sebagai suami-isteri: hendaknya suami-isteri setia sampai mati saling mengasihi, karena pengalaman anda sebagai suami-isteri akan terwariskan pada anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada anda berdua, dan pada gilirannya anak-anak kelak ketika tumbuh berkembang menjadi dewasa dan terpanggil dalam cara hidup apapun pasti akan setia menghayati panggilannya maupun melaksanakan tugas pengutusannya.
· “Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor 1:4-7). Apa yang dikatakan oleh Paulus di atas ini kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Baiklah kita sadari dan hayati bahwa kita semua telah menerima aneka macam nasihat, saran, tuntunan, pengetahuan, dst..yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan kita sebagai umat beriman atau beragama. Hendaknya segala macam yang telah kita terima tersebut tidak disia-siakan, melainkan hendaknya difungsikan dan diperkembangkan sesuai dengan kemungkinan dan kesempatan yang ada pada diri kita masing-masing. Marilah kita tunjukkan bahwa cara hidup dan cara bertindak kita sungguh menunjukkan sebagai orang yang menantikan saat dipanggil Tuhan. Dengan kata lain hidup kita ini merupakan persiapan untuk dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Cirikhas orang yang hidup dalam persiapan pada umumnya bergairah, gembira, tekun, teliti dan rajin dalam melakukan segala sesuatu, maka baiklah apapun yang sedang kita kerjakan atau dimanapun kita berada hendaknya kita tetap bergairah, gembira, tekun, teliti dan rajin. Hendaknya jangan menyia-nyiakan waktu yang ada untuk bermalas-malas, dan juga tidak perlu bersandiwara atau bekerja dan bertindak diluar kemampuan kita, melainkan tugas dan pekerjaan biasa setiap hari hendaknya dikerjakan sebaik mungkin. Kerjakan tugas dan pekerjaan sekecil apapun dengan cinta yang besar. Yang penting bukan besarnya tugas dan pekerjaan, melainkan cinta yang besar dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan. Segala sesuatu dilakukan dengan cinta yang besar pasti akan menarik, mempesona dan menawan.
“Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga.Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan”
(Mzm 145:2-5)
Ign 30 Agustus 2012
*) Sumber Millis KD
Rabu, 29 Agustus 2012
“Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"
(Yer 1:17-19; Mrk 6:17-29)
“ Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!", lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!" Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!" Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.” (Mrk 6:17-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Wafatnya St.Yohanes Pembaptis hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Yohanes Pembaptis wafat karena dibunuh sebagai korban keserakahan Herodes, seorang raja, yang gila akan jabatan/kedudukan, kehormatan duniawi serta perempuan cantik. Dengan kuasa dan kedudukan-nya ia merebut isteri saudaranya untuk dijadikan permaisuri, maka dengan tegas dan berani Yohanes Pembaptis menegornya:” Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!". Yang paling tersinggung oleh tegoran Yohanes ini adalah sang permaisuri, maka ketika ada kesempatan ia membalasnya, yaitu minta kepada sang raja ‘kepala Yohanes Pembaptis’, yang berarti kematian Yohanes Pembaptis. Karena tidak ingin dipermalukan di muka umum, maka sang raja pun mengabulkan permintaan isterinya. Entah sang permaisuri atau sang raja yang sungguh tersinggung oleh tegoran Yohanes: sang raja sendiri sudah memenjarakannya dan sang permaisuri meminta kematiannya. Dalam rangka mengenangkan wafat St.Yohanes Pembaptis ini kami mengajak kita semua, umat beriman atau beragama, untuk tidak takut dan tidak gentar menegor atau mengingatkan orang lain yang dengan sewenang-wenang mengambil hak orang lain, apa lagi mengambil ‘yang terkasih’. Marilah kita hayati rahmat kemartiran kita dengan meluruskan aneka bentuk penyelewengan atau komersialisasi jabatan, yang kiranya juga masih marak dalam kehidupan bersama kita masa kini.
· “Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!” (Yer 1:17), demikian firman Allah kepada nabi Yeremia. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil juga untuk “menyampaikan kepada saudara-saudari kita segala yang diperintahkan oleh Allah”, alias menyebarluaskan perintah Allah. Hemat saya semua perintah Allah dapat dipadatkan atau disimpulkan kepada perintahNya yang paling utama, yaitu ‘saling mengasihi satu sama lain’. Salah satu bentuk penghayatan perintah ini adalah menghormati hak-hak azasi manusia atau harkat martabat manusia maupun segala sesuatu yang dimiliki orang atau sesama manusia. Memang pertama-tama dan terutama hendaknya kita menghormati hak milik orang lain, dan jangan merampasnya atau ketika kita meminjamnya hendaknya segera dikembalikan setelah selesai menggunakannya. Namun akan terasa aneh jika meminjamkan isteri alias ‘yang terkasih’, karena dengan demikian berarti melecehkan orang lain. Ketika ada orang yang melanggar hak-hak azasi manusia maupun mengambil hak milik orang lain, hendaknya kita tidak takut dan tidak gentar menegor dan mengingatkannya, meskipun untuk itu ada ancaman bagi kita untuk disingkirkan atau dibunuh. Secara khusus kami ingatkan kepada rekan-rekan lelaki untuk tidak dengan mudah merebut isteri orang, entah secara diam-diam atau terang-terangan; secara diam-diam yang saya maksudkan adalah bermain serong dengan isteri orang lain.
“Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu.Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeraman orang-orang lalim dan kejam.” (Mzm 71:1-4)
Ign 29 Agustus 2012
*) Sumber Millis KD
Langganan:
Postingan (Atom)