Senin, 09 April 2012

"Aku telah melihat Tuhan!"

"Aku telah melihat Tuhan!"
(Kis 2:36-41; Yoh 20:11-18)
“ Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.” (Yoh 20:11-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Membaca dan merenungkan kisah sebagaimana diwartakan dalam kutipan Warta Gembira hari ini mengingatkan saya pribadi akan suatu pengalaman yang begitu mengesan, yaitu ketika saya masih berada di novisiat SJ di Girisonta-Ungaran, Jawa Tengah. Selama di novisiat kami setiap hari harus ‘opera’ yaitu bekerja kurang selama satu jam untuk merawat dan mengurus aneka macam kebutuhan hidup bersama, maka ada yang bertugas di kebun, di klas untuk menyapu dan mengepel lantai, di toilet dst.. Hari itu kami berdua memperoleh tugas untuk membersihkan toilet. Baru mulai bekerja tiba-tiba teman saya bernyanyi dengan keras “Di sini ada Tuhan”. “He , ada apa?” , pertamyaan saya, dan ia menanggapi dengan lagu yang sama “Di sini ada Tuhan”.  Maka saya pun akhrinya tergerak untuk mendekatinya dan kemudian sambil menunjuk toilet yang ternyata masih ada kotoran air besar dan belum dibersihkan, sambil bernyanyi “Di sini ada Tuhan”. Sebelum opera memang kami menerima instruksi atau pelajaran perihal “menemukan Tuhan dalam segala sesuatu dan segala sesuatu dalam Tuhan”. Memang sungguh luar biasa dan mengesan bahwa melihat kotoran di toilet berarti menemukan Tuhan. Dalam sausana yang masih mencekam di lingkungan para murid, tiba-tiba Maria Magdalena yang telah menerima penampakan Yesus bangkit dari mati berkata “Aku telah melihat Tuhan”. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mengimani dan menghayati Yesus yang bangkit dari mati hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja, termasuk di tempat-tempat yang dinilai kotor atau menjijikkan, sarat dengan tantangan, masalah dan hambatan. Marilah kita temukan dan hayati Tuhan yang hidup dan berkarya di tempat-tempat yang sarat dengan tantangan, masalah maupun hambatan.
·   Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kis 2:41), demikian informasi yang sungguh mengagumkan dan menarik berkat pemberitaan atau kesaksian para rasul. Marilah kita hayati tugas pengutusan kita sebagai pewarta-pewarta kabar baik, sebagai saksi akan Yesus yang telah wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati. Orang yang ceria dan bergembira memang selalu menarik, memikat dan mempesona banyak orang, dan membuat banyak orang senang mendekat serta kemudian bersahabat alias menggabungkan diri dengan orang yang ceria dan gemibira. Pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan para rekan imam atau pastor untuk senantiasa ceria dan gembira dalam kondisi atau situasi apapun, karena dengan demikian umat yang dilayani juga akan tergerak untuk mendekat dan bersahabat dengan anda, serta kemudian umat pun juga dengan ceria dan gembira diajak berpartisipasi dalam aneka tugas pengutusan sebagai Umat Allah, terlibat dalam aneka urusan dan pekerjaan dalam hidup menggereja atau berparoki. Orang yang senantiasa gembira dan ceria menunjukkan bahwa yang bersangkutan sungguh beriman, serta tidak pernah khawatir menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Biarlah melalui kesaksian iman kita yang ditandai dengan keceriaan dan kegembiraan semakin banyak orang bergabung dengan kita. Kita datangi mereka yang frustrasi di dalam kehidupan dan kerja, tinggal bersama mereka dan kemudian mereka kita ajak untuk melihat dan menghayati kehadiran dan karya Tuhan dalam frustrasi.
Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan. Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!” (Mzm 33:18-20)
Ign 10 April 2012  
*) Sumber Millis KD

“Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.”

HR PASKA: Kis 10; 34a.37-45; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9
“Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.”
Cintakasih memang merupakan keutamaan yang utama dari ketiga keutamaan: iman, harapan dan cintakasih. Kita, manusia di bumi ini, serta segala sesuatu yang ada di dunia atau dipermukaan bumi ini diciptakan Allah dalam cintakasih. Demikian pula kita dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini juga karena cintakasih Allah yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita melalui aneka cara dan kesempatan, Dalam warta gembira Paska hari ini adalah orang-orang yang merasa atau mengalami kasih lebih besar dari Allah yang dengan cepat mengimaninya, sebagaimana dikisahkan bahwa Yohanes ‘berlari lebih cepat dari pada Petrus’ dalam rangka menuju ke makam Yesus, setelah menerima berita dari para wanita. Memang Yesus yang telah bangkit dari mati sungguh membuat orang yang beriman kepadaNya akan hidup dan bertindak dengan cepat dan bergairah dalam menanggapi aneka ajakan atau sapaan dan sentuhan. Maka marilah dalam rangka merayakan Pesta Paska kita mawas diri: sejauh mana kita sungguh beriman kepada Yesus yang telah menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati.
Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.” (Yoh 20:8-9).
Berlari lebih cepat, serta kemudian juga sampai di tempat lebih cepat dan melihat lebih cepat, maka iapun juga percaya lebih cepat, itulah yang terjadi dalam murid yang terkasih, Yohanes. “Melihat dan percaya” memang merupakan salah satu cirikhas orang yang sungguh hidup dalam saling mengasihi dan beriman. Melihat dalam hal ini kiranya tidak cukup hanya dengan mata phisik saja, melainkan juga dengan mata hati dan mata jiwa. Bahasa Latin dari kata melihat adalah video (videre) yang memiliki beberapa arti, yaitu melihat, mengerti, mengetahui, mengalami, memandang, menelaah, meninjau, memeriksa, mempertimbangkan. Beberapa arti melihat macam itulah kiranya yang kami maksudkan dengan melihat dengan mata hati dan mata iman, dimana secara cepat dan tepat orang dapat menelaah dan mempertimbangkan apa yang dilihatnya serta kemudian dengan cepat dan tepat juga mengambil sikap atau kebijakan, antara lain percaya atau tidak percaya .
Kami percaya pada Malam Paska atau Hari Raya Paska ini telah melihat sesuatu yang indah, menarik dan mempesona selama berpartisipasi dalam ibadat, serta kami yakin atau percaya semuanya itu menggerakkan atau memotivasi anda untuk semakin percaya kepada Tuhan dan secara khusus percaya kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari mati. Jika kita percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari mati, maka kita senantiasa hidup baik, bersemangat atau bergairah dan dinamis, cara hidup dan cara bertindak kita menggairahkan dan membangkitkan mereka yang lesu atau putus asa. Dengan percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari mati kita juga akan mampu memahami dan menghayati apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, karena kitab suci yang kita miliki saat ini merupakan refleksi iman atas Yesus yang menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati. 
Kami berharap setelah mawas diri sejak Rabu Abu sampai Hari Raya Paska ini kita semua sungguh menyadari dan menghayati diri sebagai orang yang terkasih dari Allah, sehingga dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari senantiasa bersemangat. “Bersemangat adalah sikap dan perilaku yang selalu dapat bertahan dan bergairah dalam melakukan sesuatu. Ini diwujudkan dalam perilaku yang menggebu-gebu dan bergelora. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit.: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 13). Orang yang bergairah dan bergelora dalam kondisi dan situasi apapun pada umumnya menarik, mempesona dan memikat orang lain, lebih-lebih ketika menghadapi masalah, tantangan atau hambatan tetap bergairah dan bergelora. Orang yang selalu bergairah dan bergelora hemat juga memiliki ketahanan dan kekebalan diri, phisik maupun spiritual) yang handal, tak mudah jatuh sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit phisik. Selanjutnya marilah kita renungkan dan hayati ajakan atau peringatan Paulus dibawah ini.
“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan” (Kol 3:1-4).
Sebagai orang yang beriman kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari mati kita diajak untuk senantiasa “memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi”, dengan kata lain tidak bersikap mental materialistis sebagaimana dihayati oleh kebanyakan orang masa kini. Maklum sikap mental materialistis sejauh saya dengar dan cermati telah merasuki para tokoh umat beragama maupun pendidikan (ingat dan sadari bahwa korupsi terbesar di negeri kita ini terjadi dalam dua departemen yang membina manusia, yaitu departemen pendidikan dan departemen agama). Cukup memprihatinkan juga bahwa ada pastor, bruder atau suster yang berlomba dalam hal kesuksesan materi, entah itu secara pribadi atau orgaanisatoris, artinya dalam posisinya sebagai pemimpin atau pengelola karya. Harga dirinya terletak pada membeli dan memiliki, yang dikejar adalah kesuksesan bukan kesetiaan. Kita semua dipanggil untuk mengusahakan kesempurnaan dalam hal kesetiaaan. Menanggapi ajakan atau peringatan Paulus, yaitu memikirkan perkara yang di atas berarti kita diajak untuk unggul dalam hal kesetiaan pada penghayatan charisma, spiritualitas atau visi, entah secara pribadi atau bersama-sama.
Kita semua baru saja memperbaharui janji kita: janji baptis maupun janji imamat serta hidup berkaul, maka marilah kita bersama-sama mengusahakan kesetiaan pada janji yang baru saja kita perbaharui. Tentu pertama-tama dan terutama adalah janji baptis yang mendasari diri kita sebagai anggota Umat Allah. Jika janji baptis kita hayati dengan setia maka janji-janji berikutnya dengan mudah kita hayati, entah itu janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pegawai, sumpah jabatan dst.. Dalam pembaptisan kita berjanji hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan, maka marilah kita tolak dengan tegas segala rayuan atau godaan setan.
Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah” (Kis 10:44-46). Yesus yang telah bangkit dari mati berkarya melalui RohNya, dan karyaNya tidak terikat oleh ruang dan waktu, SARA, usia dst.. Percaya kepada Dia yang telah dibangkitkan dari mati berarti berpartisipasi dalam tugas pengutusan menyelamatkan dunia seisinya, umat manusia diseluruh dunia beserta lingkungan hidupnya. Untuk itu kita diharapkan “berbahasa Roh”, yaitu hidup dan bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan   “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Marilah kita bekerjasama dan berlomba dalam penghayatan keutamaan-keutamaan tersebut di atas.
“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"
(Mzm 118:1-2)
“SELAMAT PASKA 2012. MARILAH BERGAIRAH DALAM HIDUP DAN BERTINDAK DIMANA PUN DAN KAPAN PUN”
Ign 8 April 2012
*) Sumber Millis KD

“Sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea"

MALAM PASKA: Kej 1:1-2:1; Kel 14:15-15:1; Bar 3:9-15.32-4:4; Rm 6:3-11; Mrk 16:1-8
Sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea"
Pertama-tama kami ucapkan “SELAMAT PASKA 2012” kepada anda sekalian, semoga kebangkitan Yesus dari mati juga membangkitkan penghayatan iman kita sehingga kita tak takut dan gentar menjadi saksi iman dalam hidup kita sehari-hari kapan pun dan dimana pun. Cukup menarik dan mengesan bagi saya bahwa yang menjadi saksi kebangkitan Yesus dari mati yang pertama kali adalah para wanita, dimana “setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur” (Mrk 16:1-2). Hari-hari itu para rasul kiranya masih berada dalam ketakutan: jangan-jangan mereka juga akan disalibkan seperti Yesus, maka mereka takut untuk keluar dari rumah atau tempat tinggal mereka. Perintah malaikat kepada para wanita, setelah mereka melihat makam Yesus kosong, kiranya sungguh menarik untuk kita renungkan atau refleksikan, maka baiklah dengan sederhana saya coba merefleksikannya.
"Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." (Mrk 16:6-7)
Makam atau kuburan adalah  tempat orang mati alias mayat dikuburkan. Memang tidak semua orang berani di malam atau pagi-pagi hari berjalan sendirian di tengah-tengah makam atau kuburan, melewati jalan dekat makam pun takut. Ketakutan akan lebih besar ketika ada orang yang baru saja meninggal dan dimakamkan serta yang bersangkutan menjadi korban kebencian atau permusuhan, sehingga rekan-rekan dari orang yang meninggal tersebut kiranya sangat takut. Suasana macam itulah yang terjadi hari Minggu pagi setelah wafat Yesus. Dalam suasana yang demikian pada umumnya orang yang kuat secara phisik seperti laki-laki takut, sedangkan mereka yang dipandang lemah seperti para wanita tidak takut, maka para wanita lah yang di hari Minggu pagi-pagi benar tersebut pergi ke makan Yesus dan akhirnya menjadi saksi kebangkitan yang pertama.
Para wanita tersebut ‘keluar’ atau ‘dikeluarkan oleh Allah’ dari ketakutan dan persembunyian karena cintakasihnya kepada Yesus, sebagaimana Yesus juga telah dibangkitkan oleh Allah dari mati, dari kuburnya. Apa yang mereka lakukan kiranya merupakan kenangan akan para leluhurnya yang dikeluarkan dari pengasingan di Mesir untuk kembali ke tanah terjanji. "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering.Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku” (Kel 14:15-17), demikian firman Allah kepada Musa yang diminta untuk memimpin bangsanya keluar dari Mesir.
Jangan takut”, demikian sapaan Allah melalui malaikatNya kepada para wanita yang sedang mencari Yesus. Keberanian mereka diteguhkan oleh Allah untuk selanjutnya memberi tahu kepada para muridNya agar mereka menemukan Yesus yang bangkit di tempat tinggal mereka, yaitu di Galilea, karena mereka adalah orang-orang Galilea. Pesan ‘Jangan takut’ juga terarah bagi kita semua untuk tidak takut memberitakan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati, dan dalam kemuliaanNya Ia hidup dan berkarya dalam diri kita maupun saudara-saudari kita yang beriman kepadaNya, terutama di tempat tinggal atau tempat kerja kita masing-masing, dimana kita memboroskan waktu dan tenaga kita setiap hari. Dengan kata lain dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari kita tidak perlu takut untuk menjadi saksi iman, keluar dari diri kita masing-masing dengan berbuat baik atau memberitakan apa yang baik dan menyelamatkan kepada saudara-saudari kita.
“Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” (Rm 6:8-11)
Kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”, inilah yan hendaknya kita refleksikan dan hayati di dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari kapan pun dan dimana pun. Kami percaya bahwa kebanyakan dari kita belum lama ini telah mengaku dosa serta menerima rahmat kasih pengampunan Allah sebagai kekuatan untuk ‘hidup baru’, hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, meninggalkan aneka perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Hidup bagi Allah berarti senantiasa membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga dalam kondisi dan situasi apapun orang setia kepada kehendak Allah, tak pernah melawan atau melanggar kehendak dan perintah Allah alias tidak melakukan dosa.
Yesus yang telah bangkit dari mati hadir dan berkarya dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, dan tentu saja di antara orang-orang yang beriman kepadaNya. Jika kita sungguh setia pada kehendak dan perintah Allah, maka sabda ini akan menjadi kenyataan atau terwujud dalam car hidup dan cara tertindak kita, yaitu keadaan manusia ketika diciptakan oleh Allah:"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kej 1:26). Akibat dosa memang manusia tidak lagi menjadi gambar atau citra Allah, dan kita semua yang beriman kepada Yesus dipanggil untuk mengembalikannya, membuat sesama dan saudara-saudari kita sebagai gambar atau citra Allah; tentu saja kita sendiri senantiasa juga menjadi gambar atau citra Allah.
Menjadi gambar atau citra Allah berarti siapapun yang melihat kita atau hidup dan bekerja bersama dengan akan melihat Allah yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, dan dengan demikian juga akan tergerak atau termotivasi untuk semakin membaktikan diri sepenuhnya  kepada Allah, hidup bagi Allah dalam kondisi dan situasi apapun dan dimana pun. Marilah kita meneladan para wanita, saksi kebangkitan Yesus yang pertama, yang dengan rendah hati memberi tahu kepada para muridNya bahwa Ia telah mendahului keberadaan mereka. Menjadi gambar atau citra Allah juga berarti bahwa kita senantiasa mengimani bahwa Allah telah mendahului perjalanan penghayatan panggilan dan pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing. Allah mendahului hadir dan berkarya dalam tugas dan kewajiban yang akan kita hadapi dan kerjakan, maka hendaknya tidak takut dan gentar menghadapi dan mengerjakan tugas dan kewajiban seberat dan sebesar apapun.        
Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.”
(Mzm 51:12-15)
“SELAMAT PASKA, ALLELUYA, ALLELUYA”
Ign 7 April 2012
*) Sumber Millis KD