Sabtu, 11 Februari 2012

“Maria telah bagian yang memilih terbaik”

(Kid 8: 6-7; Luk 10:38-42)
“ Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk 10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Skolastika, perawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Di dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan, kita harus menghadapi aneka macam tawaran yang harus kita pilih, olah dan geluti dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Jika yang ditawarkan jelas bedanya dan berbeda manfaat maupun keuntungannya, tentu dengan mudah kita akan memilih apa yang lebih bermanfaat dan mengutungkan alias memilih yang terbaik. Orang baik pada umumnya sering dihadapkan kepada tawaran atau pilihan yang sepintas kelihatan sama-sama baik, namun harus memilih satu yang terbaik, dan untuk itu kiranya tidak mudah serta membutuhkan pengorbanan ketika harus menentukan pilihan. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan bahwa “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya”. Hal yang sama kiranya juga telah dilakukan oleh St.Skolastika yang telah memilih hidup sebagai perawan, tidak menikah serta kemudian mempeesembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Keperawanannya tidak diserahkan kepada orang tertentu, melainkan kepada Tuhan, karena dengan demikian ia kemudian akan mampu melayani lebih banyak orang daripada hanya melayani orang tertentu yang telah diserahi keperawannya, yaitu suaminya. Maka dalam rangka mengenangkan St.Skolastika hari ini kami berharap kepada rekan-rekan perempuan yang masih perawan semoga juga ada yang tergerak untuk mempersembahkan keperawananya kepada Tuhan dengan menjadi suster atau biarawati. Sekiranya tidak menjadi biarawati atau suster baiklah mempersembahkan keperawanannya kepada lelaki yang menjadi suaminya, karena dengan demikian anda berarti juga tetap menjaga kesucian anda. Kepada anda yang telah bersuami kami harapkan setia pada suaminya serta tidak menjual diri kepada orang lain alias berselingkuh. Sebaliknya kepada para suami kami harapkan juga setia pada isterinya dan tidak berselingkuh.
·   Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina” (Kid 8:6-7). Kutipan ini menggambarkan dahyatnya cintakasih, yang sungguh kuat dan perkasa, tak mudah dihancurkan. Cintakasih memang merupakan hukum tertinggi dan termulia. Sekali lagi kami angkat: ingatlah, sadari dan hayati bahwa kita diciptakan, dibesarkan dan dididik dalam dan oleh cintakasih, tanpa cintakasih kita tidak dapat menjadi orang atau pribadi sebagaimana adanya pada saat ini. Maka marilah kita senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi kapan pun dan dimana pun. “ Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1Kor 13:4-7), demikian ajaran Paulus perihal cintakasih. Danah Zohar dan Ian Marchall, penulis buku “Spiritual Intelligent”, buku yang sangat termashyur perihal kecerdasan ini, mengatakan bahwa syair cintakasih (demikian ia menyebutnya) Paulus ini merupakan ajaran cintakasih yang tiada duanya di dunia ini alias yang tertinggi, dan mereka mengajak kita semua untuk menghayati ajaran cintakasih di atas di dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari agar kita tumbuh berkembang menjadi pribadi yang cerdas spiritual. Kami berharap anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina dalam hal kecerdasan spiritual ini, antara lain dengan menghayati ajaran cintakasih tersebut di atas.
Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya! , hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.” (Mzm 148:1-2.11-13)
Ign 10 Februari 2012
*) Sumber Millis KD

“Pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."

(1Raj 11:4-13; Mrk 7:24-30)
“ Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.” (Mrk 7:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hidup dijiwai oleh iman memang merupakan dambaan semua orang, tanpa pandang bulu. Namun dalam kenyataan memang tidak mudah: ada orang mengaku diri sungguh beriman dan beragama tetapi dalam kenyataan hidup, dalam cara hidup dan cara bertindak jauh dari apa yang diakuinya. Dengan kata lain pengakuannya hanya manis di mulut dan tidak sampai pada penghayatan dalam cara hidup dan cara bertindak. Perempuan dari Yunani yang datang kepada Yesus untuk mohon penyembuhan anaknya yang kerasukan setan merupakan contoh yang baik untuk kita renungkan dan tiru. Orang-orang Yunani masa itu kiranya dikenal sebagai orang-orang yang unggul dalam hal otak atau berpikir, sehingga terjebak ke kepercayaan pada apa yang dapat dipikirkan alias difahami oleh pikiran manusia. Hal ini kiranya juga terjadi pada sementara orang masa kini, yang begitu percaya dan mengandalkan diri pada apa yang dapat dipikirkan dan difahami secara manusia serta kurang percaya pada Penyelenggaraan Ilahi/Tuhan. Dengan kata lain sedikit banyak mereka lebih dikuasai oleh setan daripada Tuhan. Sabda Yesus kepada perempuan dari Yunani "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.", mengajak dan memanggil kita untuk sungguh menghayati iman kita, tidak hanya manis di mulut saja. Iman harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku. Jika cara hidup dan cara bertindak kita sungguh dijiwai oleh iman kita, maka kita akan mampu mengatasi aneka masalah, tantangan dan hambatan maupun setan yang menguasai dan menjiwai manusia. Kata-kata yang lahir dari orang yang sungguh beriman mampu menyehatkan dan menyembuhkan mereka yang sakit dan kerasukan setan.
·   "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih." (1Raj 11:11-13), demikian sabda Tuhan kepada raja Salomo. Sabda ini kiranya baik untuk direnungkan atau direfleksikan bagi siapapun yang merasa menjadi pemimpin, di tingkat  maupun bidang kehidupan apa pun dan di mana pun. Pemimpin hendaknya “berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan yang telah diperintahkan Tuhan”. Ketika diangkat menjadi pemimpin pada umumnya yang bersangkutan berjanji untuk melayani yang dipimpin serta mendambakan dapat menjadi teladan atau inspirator yang baik bagi mereka melalui  cara hidup dan cara bertindak yang baik, yang bermoral atau berbudi pekerti luhur. Ia juga berjanji (paling tidak dalam hati) untuk senantiasa setia pada kehendak dan perintah Tuhan serta ketetapan-ketetapanNya. Kehendak Tuhan antara lain menggejala dalam orang-orang yang berkehendak baik, yang memiliki ketulusan hati untuk senantiasa mencari Tuhan. Maka kami berharap para pemimpin dengan rendah hati mendengarkan kehendak-kehendak baik dari yang dipimpin, kemudian mengolah dan menanggapi dalam bentuk pelayanan kepada mereka. Kami percaya jika pemimpin sungguh mendengarkan dengan rendah hati apa yang hidup dan terjadi dalam lingkungan hidup dan karyanya, maka akan terjadilah persaudaraan sejati sehingga tak akan terjadi perpecahan dalam hidup bersama. Salah satu fungsi pemimpin adalah pemersatu: menyatukan semua yang dipimpin dalam derap langkah pelayanan bersama.
Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu” (Mzm 106:3-4)
Ign 9 Februari 2012
*) Sumber Millis KD

“Apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya”

(1Raj 10:1-10; Mrk 7:14-23)
“Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." [Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!] Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (Mrk 7:14-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yang keluar dari seseorang antara lain: kata-kata melalui mulut, keringat melalui kulit, air seni/ kencing melaui alat kelamin dan tinja melalui dubur. Apa yang keluar tersebut pada umumnya berbau, tidak sedap dan tidak enak. Dari anggota-anggota tubuh di atas juga dapat muncul percabulan atau perzinahan, sedangkan “dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan”. Sabda hari ini mengingatkan kita agar dari hati kita timbul apa yang sebaliknya, yaitu pikiran dan perbuatan baik atau segala tingkah laku yang membuat tubuh, hati, pikiran dan jiwa kita semakin suci, bersih dari aneka macam dosa. Dengan kata lain kita diharapkan senantiasa berpikiran positif terhadap saudara-saudari dan lingkungan kita maupun aneka macam peristiwa yang sedang terjadi, sebagaimana sering muncul dari mulut orang-orang Jawa yang baik ketika melihat sesuatu peristiwa, misalnya: ada orang jatuh, untung tidak patah kakinya, terlambat datang, untung tetap hadir dst.. Maka dengan ini kami berharap secara khusus kepada rekan-rekan laki-laki: ketika melihat gadis cantik, ayu, berpakaian bagus dst.. hendaknya tidak berpikiran cabul atau zinah, melainkan memuji Allah. Kepada kita semua: hendaknya ketika melihat uang atau barang berharga tertinggal tidak lalu berpikiran jahat untuk memilikinya, melainkan segera mengusahakan siapa pemiliknya serta menyerahkannya.
·   Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu! Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan” (1Raj 10:8-9), demikian pujian ratu Syeba kepada raja Salomo. Apa yang dilakukan oleh ratu Syeba kepada raja Salomo ini kiranya merupakan contoh yang baik untuk kita tiru dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Melihat atau menyaksikan keberhasilan atau kesuksesan orang lain hendaknya langsung memujinya bukan iri hati. Pujian macam itu hendaknya juga senantiasa dilakukan oleh para orangtua kepada anak-anaknya, para guru/pendidik kepada para murid/peserta didiknya, para pemimpin kepada para anggotanya, para atasan kepada para bawahannya dst.. Sikap mental demikian merupakan perwujudan kita dalam berpartisipasi di dalam karya Penciptaan Allah atau Penyelenggaraan Ilahi, yang bersifat menumbuh-kembangkan alias berbudaya kehidupan bukan berbudaya kematian. Jika kita ragu-ragu untuk memberi pujian kepada orang lain, kiranya juga dapat belajar dari ratu Syeba, yang menguji raja Salomo dengan aneka pertanyaan. Sebaliknya kepada mereka yang merasa sedang diuji hendaknya meneladan raja Salomo yang tidak menyembunyikan sesuatu apapun akan apa yang dilakukan atau dialami alias jujur, terbuka apa adanya dan tak ada sedikitpun yang ditutup-tutupi. Terbuka apa adanya serta tidak ada yang ditutupi sedikitpun bagaikan suami-isteri atau laki-laki dan perempuan yang sedang memadu kasih atau berhubungan seksual sebagai wujud saling mengasihi secara total itulah yang diharapkan dari kita semua, umat beriman atau beragama. Marilah kita saling memuji karena anugerah Tuhan yang telah dicurahkan kepada kita secara melimpah ruah.
“ Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum; Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah”(Mzm 37:5-6.30-31)
Ign.8 Februari 2012 
*) Sumber Millis KD