Selasa, 15 Januari 2013

“Ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."

(Ibr 1:1-6; Mrk 1:14-20) “Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.”(Mrk 1:14-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya kita gunakan untuk ‘hidup menduniawi/membumi’, berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi, entah sedang bertugas untuk belajar atau bekerja maupun sibuk dalam urusan rumah tangga di rumah. Memang agar kita hidup damai dan sejahtera, kita harus belajar atau bekerja keras guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita agar dalam melaksanakan tugas pekerjaan sehari-hari tidak melupakan tujuan utama manusia (kita) diciptakan, yaitu keselamatan jiwa manusia, sebagaimana disabdakan oleh Yesus:”Mari, ikutilah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua agar baik dalam belajar atau bekerja maupun sibuk dalam rumah tangga tetap manusiawi, mengutamakan keselamatan jiwa manusia. Aneka macam buah hasil belajar atau bekerja dan sibuk dalam rumah tangga hendaknya mendukung usaha kita mencapai tujuan kita diciptakan, yaitu keselamatan jiwa manusia, maka semua buah hasil kerja, belajar atau sibuk dalam keluarga hendaknya semakin memanusiakan manusia. Ketika hidup dan kerja bersama sungguh manusiawi, maka ada kemungkinan atau kemudahan besar untuk bersama-sama mengusahakan keselamatan jiwa manusia. Salah satu cirikhas manusiawi atau harkat martabat manusia dijunjung tinggi di atas segala sesuatu yang lain, yang kelihatan di bumi ini. “The man behind the gun” ( =orang di balik senjata), demikian kata sebuah pepatah yang berarti agar kita lebih mengutamakan manusia daripada harta benda atau uang. · “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr 1:1-3). Sebagai orang beriman kita kiranya juga boleh disebut atau dinamai sebagai ‘anak-anak Allah’ yaitu orang-orang yang senantiasa melaksanakan perintah dan kehendak Allah dalam cara hidup dan cara bertindak sehari-hari. Dengan kata lain kita semua juga boleh dikatakan sebagai pembantu karya Allah, berpartisipasi dalam karyaNya, dan “Ia berkata kepada kita melalui saudara-saudari kita yang sungguh beriman”. Maka marilah kita saling mendengarkan satu sama lain: mendengarkan sabda Allah melalui saudara-saudari kita, yang antara lain menggejala dalam kehendak baik. Kami percaya kita semua berkehendak baik, maka marilah saling kita informasikan kehendak baik kita masing-masing dan kemudian kita sinerjikan, sehingga menjadi kehendak baik bersama yang utuh dan handal. Kita semua dipanggil untuk membangun dan memperdalam hidup bersama yang handal, dan untuk itu kiranya kita harus bergotong-royong dalam melakukan segala sesuatu. Ingatlah dan sadari bahwa kerjasama yang baik akan menghasilkan buah yang membahagiakan, sebagaimana kita saksikan dalam kejuaran dunia sepak baru yang lalu: tim sepak bola yang memiliki kerjasama yang bagus yang akhirnya menjadi juara. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah ‘buah atau korban kerjasama’ dari bapak-ibu kita yang saling mengasihi, maka hanya dalam kerjasama dan saling mengasihi kita akan dapat tumbuh berkembang dengan baik menuju ke keselamatan jiwa kita. “TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia” (Mzm 97:1-2b) Ign 14 Januari 2013 *) Sumber Millis KD

“Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.”

(1Yoh 5:14-21; Yoh 3:22-30) “Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya." Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Hari ini ditampilkan Yohanes Pembaptis yang dibandingkan dengan Yesus, Penyelamat Dunia. “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.", demikian kata-kata atau laporan orang-orang Yahudi, pengikut Yohanes Pembaptis. Mendengarkan laporan atau kata-kata tersebut Yohanes menanggapinya dengan rendah hati:”Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Hal ini kiranya menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para katekis atau pengajar agama maupun para gembala umat Allah. Marilah kita meneladan Yohanes dengan berkata dan menghayati ”Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”, dengan kata lain hendaknya senantiasa menghayati diri, panggilan dan tugas pengutusan atau pelayanan sebagai alat atau sarana, sebagai bantuan bagi orang lain untuk bertemu dan berbakti kepada serta bersatu dengan Tuhan. Dengan kata lain hendaknya anda para pewarta, katekis maupun gembala umat senantiasa hidup, bertindak dan melayani umat dengan rendah hati. Pada waktunya ketika umat menjadi dewasa dan mandiri dalam hidup beriman atau beragama, biarlah mereka berjalan sendiri sesuai dengan Penyelenggaraan Ilahi. Kami harapkan para pewarta, katekis atau gembala umat menghayati motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani”. Hendaknya anda tahu diri kapan harus memberi teladan hidup beriman atau beragama, kapan harus memberdayakan dan mendorong umat Allah. · “Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.” (1Yoh 5:15-16). Kami percaya bahwa kita semua adalah orang berdosa, sering melakukan dosa yang tidak mendatangkan maut alias dosa yang dapat diampuni. Maka sebagaimana dikatakan oleh Yohanes di atas marilah kita berdoa mohon kasih pengampunan Allah baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Berdoa antara lain membuka diri sepenuhnya, selebar-lebarnya atas kehendak dan perintah atau sabda Allah atau Penyelenggaraan Ilahi. Sikap doa hendaknya senantiasa menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita, sehingga ketika kita menerima saran, kritik, anjuran atau nasihat, dengan rendah hati kita dengarkan dan cecap dalam-dalam serta kemudian kita tanggapi secara positif dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita. Kami percaya setiap hari dan setiap saat ada hal-hal baru di lingkungan hidup kita, yang mengajak dan memanggil kita untuk menanggapinya secara positif. Dengan kata lain hendaknya dibangun dan diperdalam sikap mental ‘belajar terus-menerus’, ongoing formation atau ongoing education dalam diri kita. Orang-orang sukses di dunia ini sungguh dijiwai oleh sikap mental belajar, baik dalam tugas pekerjaan ataupun hidup dan tindakan setiap hari. Belajar tidak hanya di meja sekolah, tetapi juga dalam hidup sehari-hari, dalam kesibukan, pelayanan dan tugas pengutusan kita. Allah terus memperbaharui dunia seisinya, dan tentu kita manusia harus senantiasa siap sedia untuk diperbarui, berubah lebih baik, mulia, luhur, bermoral dan berbudi pekerti luhur sampai mati. “Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” (Mzm 149:1-4) Ign 12 Januari 2013 *) Sumber Millis KD

Jumat, 04 Januari 2013

Epifani

Rekan-rekan yang baik! Mat 2:1-12 dibacakan pada Hari Raya Penampakan Tuhan yang juga biasa disebut Hari Raya Epifania. Dikisahkan kedatangan orang-orang bijak dari jauh untuk menyatakan penghormatan mereka kepada raja yang baru dilahirkan. Siapakah mereka ini? Dahulu kala, di wilayah Babilonia dan Persia (Irak & Iran utara) ada orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya juga berperan sebagai ulama agama setempat. Matius menyebut mereka sebagai "orang-orang majus". Dalam kisah ini mereka mewakili orang-orang bukan Yahudi yang datang dari jauh untuk menghormati dia yang lahir di Betlehem yang bakal menjadi pemimpin umat manusia. Kebijaksanaan para majus ini membawa mereka ke sana. Para ulama Yahudi sendiri sebenarnya juga mengetahuinya lewat nubuat Nabi Mikha (Mat 2:6, kutipan dari Mikha 5:1). ORANG-ORANG BIJAK TANYA: Cerita mengenai orang majus ini menarik. Dapatkah dikatakan bahwa Tuhan berbicara kepada umat manusia tidak hanya lewat wahyu Alkitab saja? Seperti di sini, lewat kebijaksanaan manusiawi juga? JAWAB: Ya! Memang itulah yang diungkapkan Matius dengan kisah ini. Ia menunjukkan bagaimana kebijaksanaan dapat juga menuntun orang mengenali kehadiran Tuhan. TANYA: Bila begitu, luas benar pandangan Matius. JAWAB: Malah dengan kisah ini Matius juga bermaksud mengatakan bahwa Tuhan justru berbicara kepada umat-Nya lewat orang-orang bukan dari kalangan itu sendiri! Orang-orang di Yerusalem mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang-orang bijak itu. Setelah itu barulah mereka mulai sibuk mencari dalam khazanah teks keramat mereka sendiri. Matius mau membangunkan orang sekaumnya yang kurang mendalami tradisi keramat mereka sendiri. TANYA: Wah, keberanian berpikir seperti Matius itu langka, juga pada zaman ini. Orang biasanya merasa aman dengan apa-apa yang sudah biasa, yang dapat diperhitungkan. Akan tetapi jalan Tuhan tidak terbatas. Apakah Matius juga bermaksud agar orang-orang Yahudi sadar bahwa mereka bukan satu-satunya umat yang diperhatikan Tuhan? JAWAB: Beberapa bagian dalam Perjanjian Lama sebenarnya sudah mengatakan hal ini walaupun caranya agak berbeda. Misalnya, Yes 60:1-6 (bacaan pertama pada Hari Raya Penampakan Tuhan ini) menegaskan bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi akan berduyun-duyun ke Sion, yakni tempat Tuhan bertakhta, tempat Ia menyinarkan terang-Nya (terutama ay. 3). Maksudnya, kini Tuhan bukan hanya bagi orang Yahudi. TANYA: Jadi juga cocok dengan yang diutarakan dalam bacaan kedua (Ef 3:6), yaitu berkat "Injil" orang-orang bukan Yahudi dapat turut menikmati janji Tuhan yang kini diberikan dalam ujud manusia, yaitu Yesus. JAWAB: Benar. Dalam surat Efesus itu "Injil" ialah Kabar Gembira yang sama bagi semua orang, berarti juga bagi orang bukan Yahudi dan orang-orang yang bukan termasuk umat Perjanjian Lama. MEMBAWA BINGKISAN TANYA: Sering kita dengar mengenai "Tiga Raja", Gaspar, Baltasar, dan Melkhior. Tapi dalam Injil Matius ini jumlah serta nama-nama mereka kok juga tidak disebutkan? Juga tidak dikatakan mereka itu raja. JAWAB: Memang Matius hanya menyebut "orang-orang majus dari Timur" dan tiga macam persembahan, yakni "emas, dupa, dan mur". Tiga persembahan itu kemudian menumbuhkan gagasan adanya tiga orang. Bahwasanya mereka kemudian dianggap raja boleh jadi didasarkan pada tradisi umat Yahudi sendiri seperti ada dalam Mzm 72:10 ("Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba membawa upeti"). Nama-nama Gaspar, Baltasar, dan Melkhior itu dikenal di wilayah kekaisaran Romawi sebelah Barat. Di wilayah lain nama mereka berlainan, juga jumlah mereka berbeda-beda, dari dua hingga dua belas orang. TANYA: Bisakah diterangkan sedikir mengenai persembahan yang dibawa para majus itu? JAWAB: Matius boleh jadi teringat akan Yes 60:6 ("... mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan"). Dalam tradisi Gereja awal, emas dihubungkan dengan kedudukan mulia Yesus sebagai raja, dupa dengan martabat ilahinya, dan mur dengan wafatnya sebagai manusia nanti. (Mur dipakai dalam merawat jenazah sebelum dikuburkan). TANYA: Apa ada makna yang lebih dalam? JAWAB: Persembahan itu menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang yang bukan dari kalangan Yahudi dengan pemimpin umat Tuhan yang baru lahir ini. Iman dan berkatnya mengatasi ikatan-ikatan bangsa dan kedaerahan. BERSUKA CITA TANYA: Dapatkah dijelaskan perihal bintang yang dilihat para majus (Mat 2:2) dan yang berhenti di tempat Yesus lahir (Mat 2:9)? JAWAB: Pembaca akan teringat pada bintang yang disebutkan dalam Bil 24:17. Balaam, seorang ahli nujum bangsa Aram, menubuatkan bahwa sebuah bintang akan muncul dari keturunan Yakub. Selain itu, di kalangan Yahudi ada juga nubuat mengenai kelahiran seorang pemimpin di Betlehem, seperti terdengar dalam Mikha 5:1 dst. yang bahkan dikutip dalam Mat 2:6. Matius menerapkan kedua nubuat tadi pada kelahiran Yesus. TANYA: Masih mengenai bintang. Setelah mereka berangkat dari tempat Herodes, para majus tadi melihat kembali bintang yang mereka lihat di Timur. Dan dikatakan bahwa mereka "sangat bersuka cita" (Mat 2:10). Bagaimana penjelasannya? JAWAB: Mereka mengikuti petunjuk yang diungkapkan para ulama Yerusalem kepada Herodes mengenai raja yang baru lahir itu. Herodes kemudian meminta para majus agar mencarinya di Betlehem. Isyarat bintang yang mereka lihat di Timur cocok dengan pemahaman para ulama di negeri yang mereka datangi. Mereka bersuka cita karena mendapatkan jalan yang benar-benar akan membawa mereka kepada dia yang mereka cari. CARA TUHAN BERBICARA Dalam Injil Lukas, orang-orang pertama yang menyadari makna peristiwa kelahiran Yesus ialah para gembala (Injil Misa Fajar hari Natal.) Dalam Injil Matius, peran yang sama dijalankan orang-orang majus tadi. Baik para gembala maupun orang-orang majus mendapat bimbingan langsung dari langit tetapi dengan "bahasa" yang sesuai dengan cara berpikir masing-masing. Kepada para gembala, Tuhan berbicara lewat penampakan malaikat dan bala tentara surgawi. Kepada para ulama yang ahli ilmu pengetahuan itu, Ia berbicara lewat isyarat bintang dan pemikiran. Ia bahkan dapat berbicara kepada mereka lewat orang yang memiliki niat yang kurang lurus seperti Herodes yang meminta mereka agar ke Betlehem. Baik para gembala maupun orang-orang majus itu sama-sama mencari dia yang baru lahir. Mereka membuat orang-orang yang mereka jumpai tidak dapat tinggal diam. Menurut Luk 2:18, orang-orang pada "keheranan" ketika mendengar para gembala bercerita mengenai kata-kata malaikat mengenai anak yang baru lahir itu. Dalam Mat 2:3, dikisahkan bahwa Herodes dan seluruh isi Yerusalem "terkejut" ketika mendengar kata-kata para majus. Ironisnya, mereka yang heran dan yang terkejut itu adalah orang-orang yang sebenarnya sudah berada di dekat dengan dia yang baru lahir. Dalam Injil Lukas, mereka itu sudah ada di tempat Maria baru saja melahirkan. Ahli-ahli Taurat di Yerusalem dan Herodes yang disebut Matius sudah dekat dengan kelahiran Yesus lewat kitab-kitab keramat mereka. Namun mereka tidak menginsafi apa yang sedang terjadi di dekat mereka. Seperti jelas dari Mat 2:5, para ulama di Yerusalem itu sebenarnya juga dapat mengetahui peristiwa itu. Tetapi mereka tidak memahami maknanya. Juga di antara orang-orang yang mendengar kata-kata para gembala, hanyalah Maria sajalah yang berusaha mengerti. Disebutkan dalam Luk 2:18 bahwa Maria "menyimpan semua perkataan itu dalam hatinya dan memikir-mikirkannya." Artinya, ia bersikap mau memahami misteri yang ada dalam kehidupannya. Orang-orang lain tetap terheran-heran saja. Nanti para majus diperingatkan "dalam mimpi" supaya jangan kembali ke Herodes. Para majus kini sudah akrab dengan isyarat-isyarat dari atas. Mereka kini sudah berada di pihak raja yang baru lahir. Karena itu mereka juga menyadari muslihat Herodes yang ingin melacak di mana persisnya tokoh yang dianggapnya bakal menjadi saingannya itu. Kebijaksanaan kini menuntun para majus kembali ke negeri mereka. Mereka pulang membawa kegembiraan yang akan mereka bagikan kepada orang-orang lain. Bagaimana dengan mereka yang ada di Yerusalem, yaitu Herodes dan orang-orang seperti dia? Mereka akan tetap "terkejut" dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka kehilangan kepekaan akan cara-cara Tuhan berbicara kepada manusia, malah menganggapnya sebagai ancaman! IKUT BERGEMBIRA Pada perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan kita mensyukuri saat-saat Dia membiarkan diri terlihat oleh orang-orang yang tidak atau belum melihat-Nya. Dalam Mat 2:11, dikatakan bahwa para majus melihat Yesus bersama Maria dan baru setelah itu mereka menyembahnya. Dia yang ilahi itu membiarkan diri dipandangi oleh orang yang tidak biasa melihatnya. Dan bukan hanya dalam panganan belaka melainkan ada bersama dengan manusia lain, bersama dengan dia yang melahirkannya. Para majus bersuka cita karena dapat melihat Tuhan sungguh ada di dalam kehidupan manusia. Dan sukacita seperti ini boleh juga kita alami. Salam hangat, A. Gianto (ROMA) *) Sumber Millis KD