Salam Sejahtera dalam Tuhan Kita Yesus Kristus! melalui Blog Rohani Katholik ini saya ingin berbagi hal-hal Rohani baik berupa Renungan harian, cerita-cerita inspiratif dan sharing pengalaman yang kiranya dapat menumbuhkan dan meningkatkan iman kita bersama sebagai pengikut Kristus.Renungan-renungan ditulis oleh Pihak-pihak yang kompeten dibidangnya, bisa oleh Para Uskup, para Imam dlsb. Semoga bermanfaat. Salam dan Berkatku Rm. Klemens Bere. PR
Senin, 17 Desember 2012
"Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
Kutipan judul di atas ini kiranya senada dengan perjalanan akhir dalam Latihan Rohani St.Ignatius Loyola pada Minggu Pertama, dimana setelah retretan diajak mawas diri untuk menyadari dosa dan kerapuhan dirinya, kemudian akan bertanya pada dirinya sendiri: ”Apa yang harus kuperbuat?”. Pertanyaan muncul karena menyadari diri sebagai orang berdosa yang telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah. Kami percaya kita semua setelah kurang lebih menelusuri masa Adven juga mengadakan mawas diri, serta menyadari diri sebagai orang berdosa dan mempertanyakan “apa yang harus saya perbuat”. Maka baiklah sesuai dengan Warta Gembira hari ini ada tiga profesi diangkat, yaitu: orang kaya, pemungut cukai atau militer dan mungkin anda terkait dengan profesi tersebut hendaknya mawas diri dan menanggapi sabda-sabda di bawah ini.
"Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Luk 3:11)
Sabda di atas ini kiranya terarah bagi orang-orang kaya atau berkecukupan dalam hal harta benda atau kebutuhan hidup sehari-hari. Anda semua diharapkan uutuk berbagi kepada sesama alias solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup atau kerja anda, dan sekiranya di lingkungan hidup dan kerja anda tidak ada yang sungguh membutuhkan bantuan, hendaknya solidaritas anda disalurkan melalui instansi Gerejani atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam pelayanan terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Solidaritas anda kiranya juga dapat disalurkan secara langsung ke panti-panti social atau panti-panti asuhan, tanpa pandang bulu atau SARA.
Jati diri manusia adalah social, artinya dari lubuk hati manusia yang terdalam ada kerinduan atau dambaan untuk hidup bersama dengan orang lain, sebagaimana disabdakan oleh Allah, yaitu bahwa "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kej 2:11). Maka marilah kita bina diri kita maupun anak-anak kita perihal kepekaan terhadap orang lain, alias keutamaan social. Kami merasa dan melihat bahwa kepekaan social kebanyakan orang masa kini sungguh memprihatinkan, bahkan ada kecenderungan kuat dari kebanyakan orang untuk bersikap mental egois, hanya mengutamakan dan mengedepankan kepentingan pribadi, cari enaknya sendiri. Sebagai orang Indonesia marilah kita usahakan agar sila kelima dari Pancasila, yaitu “Keadilan social bagi seluruh bangsa” segera terwujud. Sungguh memprihatinkan jika dicermati bahwa departemen yang harus memperhatikan masalah social di negeri kita ini kurang melaksanakan tugasnya dengan baik, bahkan korupsi masih marak di lingkungan Departemen Sosial.
"Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (Luk 3:13)
Kutipan di atas ini erat kaitannnya dalam pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam kiranya sungguh hidup dalam kehidupan bersama, tidak hanya secara pribadi atau perseorangan, tetapi juga secara organisatoris dan kenegaraan. Pinjam-meminjam memang juga merupakan salah satu bentuk penghayatan hidup dan kerja bersama, mengingat dan memperhatikan keterbatasan dan kelemahan masing-masing. Mereka yang berkekurangan dalam hal tertentu mencari pinjaman pada pihak lain, dan mereka yang merasa dapat memberi pinjaman pun dengan besar hati menanggapi secara positif, karena pada dirinya juga ada kekurangan tertentu. Memang masing-masing dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan, dan selayaknya kemudian lalu saling meminjam.
Kita semua diingatkan agar mentaati tata tertib atau aturan pinjam-meminjam dengan baik dan benar, “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan”. Peringatan ini mungkin secara khusus terarah kepada para rentenir, yang pada umumnya mencekik orang-orang kecil dan miskin. Sungguh mengerikan bunga pinjaman yang harus dibayar kepada rentenir sebesar 20% (dua puluh persen) per bulan dari nominal sisa pinjaman yang ada, yang berarti bunga setahun lebih dari 100%. Semoga para rentenir bertobat, dan kepada para pejabat pemerintahan di tingkat manapun kami ajak untuk memberantas rentenir yang menyengsarakan orang-orang kecil, miskin dan berkekurangan.
"Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Luk 3:14)
Sabda ini memang secara khusus terarah kepada para prajurit atau militer serta profesi yang terkait dengan militer, karena ditanyakan oleh prajurit. Aneka bentuk perampasan dan pemerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum Angkatan Bersenjata di negeri ini rasanya masih marak terjadi. Ada oknum-oknum yang merampas atau memeras secara halus dengan kedok atau alasan keamanan: melindungi judi atau pelacuran dengan imbalan uang. Yang sungguh memprihatinkan adalah mereka yang seharusnya memperjuangkan kejujuran dan memberantas korupsi dan kejahatan justru melakukan korupsi tanpa malu. Mereka yang seharusnya melayani rakyat justru merampas hak rakyat atau memeras rakyat melalui aneka cara dan bentuk. Korupsi atau uang pelicin atau sogokan masa kini tidak disampaikan secara terbuka seperti dulu, melainkan disampaikan secara diam-diam, seperti di hotel, di restaurant/rumah makan, di halte bus atau tempat parkir dst..
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Fil 4:6-7), demikian pesan Paulus kepada umat di Filipi. Kutipan ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh mereka yang suka merampas dan memeras hak orang lain. Orang yang memiliki kebiasaan untuk memeras atau merampas pada umumnya dalam dirinya ada kekuatiran tentang kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Paulus mengingatkan kita semua bahwa jika kita memiliki kekuatiran akan kebutuhan dan kesejahteraan hidup, hendaknya menyatakan hal tersebut kepada Allah, artinya dengan rendah hati mohon bantuan dari Allah dan secara konkret mohon bantuan kepada saudara-saudari kita. Percayalah di dunia ini lebih banyak orang baik yang senantiasa siap sedia untuk membantu daripada orang pelit atau egois.
"Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya."(Zef 3:16-18a). Kutipan ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh mereka yang memiliki kekuatiran akan kebutuhan dan kesejahteraan hidup. “Ia membaharui engkau dalam kasihNya”, inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan serta kemudian kita hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Serahkan kekuatiran anda kepada Tuhan, dan percayalah bahwa Tuhan akan memusnahkan kekuatiran anda.
“Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!” (Yes 12:2-5)
Ign 16 Desember 2012
*) Sumber Millis KD
Jumat, 14 Desember 2012
LANGKAH-LANGKAH PEMBARUAN HIDUP
Dalam Injil yang dibacakan bagi kesempatan ini, yakni Luk 3:10-18, dikisahkan bagaimana orang-orang yang datang kepada Yohanes Pembaptis berharap dapat membarui diri. Terungkap dalam beberapa ayat sebelumnya (ay. 7-9) kecaman keras Yohanes Pembaptis terhadap mereka yang disebutnya "keturunan ular berbisa". Mereka diperingatkan agar jangan melamun akan luput dari murka pada akhir zaman nanti. Bahwasanya mereka lahir sebagai keturunan Abraham sama sekali bukan jaminan. Jalan satu-satunya agar selamat ialah bila mereka menghasilkan buah yang baik. Bila tidak, mereka ibarat pohon yang akan ditebang dan dimusnahkan dengan api.
"NYEPI" KE PADANG GURUN
Mendengar kata-kata Yohanes tadi, orang-orang mulai gelisah lalu minta dibaptis olehnya sambil menyatakan niat mau memperbarui diri. Waktu itu baptisan lazim dilakukan sebagai ungkapan niat membarui diri di hadapan seorang guru yang dihargai. Ada macam-macam kelompok: orang kaya, pemungut cukai, dan tentara. Meskipun termasuk "kaum terhormat" dalam masyarakat, mereka sering dianggap sudah terlampau jauh terpisah dari kehidupan orang Yahudi yang beragama. Mereka dinilai sebagai kaum egois, orang-orang kemaruk dan kawanan pemeras. Namun demikian, dalam Injil Lukas digambarkan bagaimana orang-orang yang biasanya dianggap sudah tak tertolong lagi itu masih mempunyai kesempatan. Ingat perumpamaan anak yang hilang tetapi kembali (Luk 15:11-32), perumpamaan pemungut cukai yang dengan tulus mengakui keberdosaannya (Luk 18:9-14), Zakheus yang ikhlas mengamalkan separo miliknya (Luk 19:1-10). Mereka ditonjolkan Lukas sebagai orang-orang yang dengan rendah hati bertanya "Apakah yang harus kami perbuat?" Pertanyaan ini juga sering timbul dalam lubuk hati banyak orang, juga dalam batin kita.
Cara-cara memperbaiki diri yang dianjurkan Yohanes sejalan dengan kehidupan masing-masing. Yang serba berkecukupan dianjurkan berbagi kelebihan dengan orang lain, yang mempunyai wewenang menarik pajak hendaknya belajar berlaku jujur, yang memiliki kekuasaan, senjata, dan organisasi dapat belajar agar tidak mempraktekkan kekerasan. Tidak pada tempatnya mengkhotbahkan secara harfiah anjuran-anjuran Yohanes itu. Keadaan masyarakat berbeda-beda dari zaman ke zaman dan dari tempat ke tempat. Tetapi tak meleset bila dikatakan anjuran Yohanes itu membuat orang berpikir bahwa kedudukan dan kekuasaan tak dapat dilepaskan dari kewajiban untuk menjalankannya sesuai dengan maksud kedudukan itu, begitu pula kelebihan material menuntut pengamalan, bukan penimbunan belaka. Inilah prinsip penalaran moral yang berlaku di mana-mana dan kapan saja.
Namun demikian, penalaran seperti di atas belum tentu membawa perubahan dalam diri orang secara menyeluruh. Orang perlu sejenak meninggalkan kebisingan hidup dan menemukan ketenangan batin. Mereka yang mendengarkan Yohanes Pembaptis itu datang ke padang gurun untuk "nyepi" ke daerah Yordan, meninggalkan Yerusalem yang inggar- bingar dan penuh kezaliman ("Ierousaleem" katakan saja mudahnya "Yeru-zalim") untuk melihat prospek kembali ke Yerusalem yang jadi tempat keselamatan ("Hierosolyma" - mudahnya - "Yeru-syalom"). Di situ orang boleh berharap mendapat pertolongan kekuatan-kekuatan ilahi yang diimbau Yohanes Pembaptis dan menjadi peka mendengarkan isyarat ilahi. Dalam suasana seperti inilah ajakan untuk memperbaiki diri akan lebih merasuki batin dan budi. Kekuatan-kekuatan ilahi itulah yang akan meluruskan batin orang dan menimbun lubang-lubang yang biasanya membuat batin orang tak rata, yang "nggronjal". Pertobatan yang sungguh baru bisa terjadi bila berawal dalam suasana kesunyian yang sarat dengan kehadiran ilahi. Ini pertobatan yang menghadirkan Tuhan.
Bisa ditengok bacaan pertama Minggu Adven III tahun C ini, yakni Zef 3:14-18a. Di situ terungkap bagaimana Tuhan menghibur kota Yerusalem yang kini tinggal reruntuhan belaka akibat penyerbuan Nebukadnezar. Seperti jelas dalam 13 ayat yang mendahuluinya, malapetaka ini dipahami sebagai hukuman bagi kelakuan buruk umat sendiri. Tetapi keadaan sudah berubah. Tuhan kini berbalik mengasihani umat-Nya dan berjanji akan berada kembali di tengah-tengah mereka. Ia akan mengumpulkan mereka yang tercerai-berai. Yerusalem dan penduduknya diimbau agar tidak lagi bersedih. Kebesarannya akan pulih. Harapan hidup kembali. Tuhan akan mendatangi kota suci-Nya dan tinggal di sana lagi. Iman ini tumbuh pada zaman setelah pembuangan dan tetap hidup dalam masa Perjanjian Baru. Injil-Injil, khususnya Lukas, memakainya dalam wujud pola perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem - dia itulah Raja yang dinanti-nantikan orang, dia itulah Penyelamat yang diharap-harapkan datang ke kota sucinya.
LANGKAH-LANGKAH PEMBARUAN HIDUP
Dalam Injil bagi Minggu Adven II tahun C yang lalu kita mendengar Yohanes mewartakan baptisan tobat demi pengampunan dosa (Luk 3:1-6). Ia mendekatkan orang kepada kekuatan-kekuatan ilahi yang memberi hiburan dan karena itu orang dapat mulai berharap dan mencari arah baru yang segar. Orang baru bisa berharap bila pernah mengalami penghiburan bahwa ada kemungkinan untuk itu. Warta Kitab Suci menekankan adanya penghiburan dari atas sebagai dasar harapan sejati. Ini landasan bagi teologi harapan yang kukuh dan yang dapat nyata-nyata menolong orang.
Memang tidak dapat disangkal adanya unsur jeri dan jera. Dalam tahap tertentu kekuatan-kekuatan ilahi itu bukan hanya pesona yang menghibur, tetapi juga membuat orang tergetar. Perjumpaan dengan Yang Ilahi sering dialami orang sebagai yang mengejutkan, sebagai keberdosaan yang menyakitkan, yang mencemaskan. Kecaman keras yang sebelumnya diutarakan Yohanes dalam Luk 3:7-9 menyadarkan orang akan dimensi ini. Akan tetapi, kata-kata tajam Yohanes itu ditujukan bagi orang yang sudah mulai mencari arah baru, dengan kata lain, sudah mulai "bertobat". Mereka itu sudah terhibur dan memiliki harapan.
Tahapan selanjutnya ialah sikap bertanya "Apa yang harus dikerjakan?" (Luk 3:10.12.14) seperti terungkap dalam Injil kali ini. Orang mau belajar mengubah diri, belajar memperhatikan sesama, belajar berlaku adil dan lurus. Keinginan inilah yang menjadi kenyataan hadirnya kekuatan-kekuatan ilahi yang datang mempersiapkan dan meluruskan jalan seperti kata-kata Yesaya yang dikutip dan diterapkan Lukas dalam bacaan Injil pada ulasan Injil Minggu lalu. Inilah kekuatan-kekuatan moral yang bakal menjinakkan kecenderungan serakah, main kuasa, curang ... dan pelbagai kenyataan buruk di dunia ini yang menjadi bagian kehidupan manusia. Bila terjadi, mulai jelaslah makna anjuran Yohanes agar orang memberikan sehelai dari "dua helai baju" kepada orang yang tak mempunyainya.
Ada pasang surut dalam tahap-tahap tadi. Ini deskripsi, bukan evaluasi terhadap pengalaman. Pengalaman membawa kita maju bila digambarkan dan dimengerti, bukan bila dinilai begini atau begitu menurut seperangkat ukuran yang sudah lazim dipakai. Kepekaan mengenai hal ini amat berguna dalam bimbingan rohani dan pelayanan pastoral pada umumnya.
MENGAJAK ORANG BERTANYA
Dalam konteks Injil Lukas, orang-orang yang datang ke Yohanes itu sebenarnya orang-orang yang sudah maju jauh. Banyak ahli tafsir yang melihat tokoh Yohanes Pembaptis beserta pengikutnya sebagai kaum rahib yang menjauhi hidup di Yerusalem dan menyepi di padang gurun. Kita banyak mendengar mengenai kelompok-kelompok seperti itu: kaum Ebioni, kaum Eseni, dan kaum rahib dari pertapaan Qumran.
Bagaimana menerapkan gagasan di atas bagi keadaan yang berbeda, bagi umat yang tidak hidup dalam suasana pertapaan seperti itu, bagi orang-orang yang belum melangkah ke pertobatan seperti orang-orang yang datang ke Yohanes Pembaptis itu? Tak banyak faedahnya memakai mimbar khotbah untuk mencela sikap-sikap atau contoh-contoh kejahatan dan kedosaan. Salah-salah malah akan menjauhkan orang dari Gereja. Lebih mudah diterima bila dijelaskan bahwa bertobat dapat mulai dengan membangun sikap tidak mengalah kepada ketidaksempurnaan dalam kehidupan ini. Sikap yang paling berlawanan dengan pertobatan ialah takut, tak berbuat apa pun. Yohanes Pembaptis mengajarkan sikap tidak menerima begitu saja bengkak-bengkoknya jagat ini yang mempengaruhi dan membentuk kehidupan. Dalam pandangan Lukas, sang Pembaptis menyerukan kekuatan-kekuatan dari atas sana untuk mengalahkan daya-daya yang tidak lurus tadi. Sekali lagi sikap "nyepi" dapat membantu orang membiarkan diri disertai kekuatan-kekuatan tadi sambil menjauhi kebisingan daya-daya jahat.
SPIRITUALITAS PELAYAN SABDA: Luk 3:15-18
Yohanes Pembaptis itu pewarta kedatangan sang Penyelamat. Pelayanannya juga khas. Ia menyiapkan orang agar makin ingin berjumpa dengan Tuhan sendiri. Pelayanan seperti inilah yang menjadi dasar kerohanian para pelayan sabda. Juga di masa kini. Dan lebih dalam lagi. Ketika orang mulai menduga-duga apakah dia itu sang Mesias sendiri, Yohanes menegaskan dirinya bukan Dia yang dinanti-nantikan. Ia mengatakan tak pantas melepaskan tali kasut Mesias sekalipun. Ungkapan ini berlatar yuridik dan artinya "mengklaim" harapan umat. Maklum, melepaskan tali kasut di sini berhubungan dengan praktek menunjukkan alas kaki kepada pihak yang boleh memandang pembawa alas kaki itu mewakili secara sah pemilik yang tak hadir secara fisik. Ini praktek yuridik tradisional yang dikenal di pelbagai tempat dan sering dipakai dalam upacara nikah per procura. Yohanes tidak merasa pantas menjadi wakil yang sah sekalipun dari Yesus. Jadi, ungkapan itu bukan ungkapan basa-basi saleh, melainkan ungkapan yuridik. Ia menyatakan diri sama sekali tak memiliki hak mengukuhi umat Tuhan. Lalu siapakah Yohanes Pembaptis itu? Menurut Lukas, dia itu suara di padang gurun, di kesunyian, suara yang memperdengarkan kehadiran Tuhan dan mengajak kekuatan-kekuatan ilahi menyiapkan orang agar mampu menerima Tuhan sendiri. Yohanes Pembaptis bergerak dalam senyapnya awang-uwung yang sarat dengan kekuatan-kekuatan ilahi, tetapi ia juga bisa didengar oleh orang-orang yang hidup dalam kebisingan sehari-hari.
Salam hangat,
A. Gianto (ROMA)
*) Sumber Millis KD
“Tidak dapat menjadi muridKu”
(1Kor 2:1-10a; Luk 14:25-33)
“ Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:25-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes dari Salib hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Salib adalah panji-panji para murid atau pengikut Yesus Kristus, maka barangsiapa percaya kepadaNya harus berani meneladanNya, yaitu siap sedia menderita sengsara dan kalau perlu mati karena setia pada iman dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Bagi yang beriman kepada Yesus Kristus, khususnya yang beragama Katolik sering membuat tanda salib dengan menepuk dahi/kepala, dada dan bahu seraya berkata “Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Hal itu berarti mau hidup dan bertindak dengan cara berpikir Yesus Kristus, berjiwa Yesus Kristus dan meneladan cara bertindakNya. Maka pertama-tama dan terutama saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri: apa yang ada di dalam hati kita saat ini, dan apa yang sedang saya pikirkan. Apa yang ada dalam hati dan pikiran atau otak kita itulah yang akan menentukan cara hidup dan cara bertindak kita. Kami berharap kita semua senantiasa memikirkan keselamatan jiwa manusia, sebagaimana juga dipikirkan oleh Tuhan Allah. Hendaknya keselamatan jiwa manusia menjadi tolok ukur atau barometer keberhasilan hidup dan bertindak kita. Hemat saya jika kita sungguh mengutamakan keselamatan jiwa, maka kita pasti akan menghadapi banyak tantangan, masalah dan hambatan, mengingat dan memperhatikan sikap mental materialistis begitu menjiwai cara hidup dan cara bertindak kebanyakan orang masa kini. Dengan kata lain orang harus siap sedia untuk menderita dan sengsara, namun ingatlah dan sadarilah serta hayati bahwa penderitaan dan kesengsaraan yang lahir dari kesetiaan pada iman kepercayaan adalah jalan menuju ke keselamatan sejati, bahagia dan damai sejahtera sejati dan selamanya.
· “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” (1Kor 2:1-3), demikian sharing iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus. Sharing Paulus ini kiranya dapat menjadi bahan refleksi atau permenungan kita. “Aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu”, inilah kiranya yang juga harus menjadi acuan hidup kita, sebagai orang beriman. Hendaknya kita senantiasa lebih mengutamakan atau mengedepankan tindakan atau periaku daripada kata-kata atau omongan yang indah. Keunggulan hidup beriman terletak dalam perilaku atau tindakan, bukan dalam wacana atau omongan. Semoga cara bertindak atau perilaku kita dimana pun dan kapan pun baik adanya, artinya tidak pernah mengecewakan, melecehkan dan merendahkan orang lain, melainkan membahagiakan dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa manusia, entah jiwa kita sendiri maupun jiwa orang yang kena dampak cara bertindak atau perilaku kita. Kutipan di atas juga mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa dalam rangka ‘berdakwah’ atau melaksanakan tugas missioner lebih mengutamakan tindakan atau perilaku, bukan wacana atau omongan. Dengan kata lain kesaksian atau keteladanan hidup beriman sungguh penting dan mutlak dalam rangka melaksanakan tugas missioner.
“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang” (Mzm 37:3-6)
Ign 14 Desember 2012
*) Sumber Millis KD
Langganan:
Postingan (Atom)