Salam Sejahtera dalam Tuhan Kita Yesus Kristus! melalui Blog Rohani Katholik ini saya ingin berbagi hal-hal Rohani baik berupa Renungan harian, cerita-cerita inspiratif dan sharing pengalaman yang kiranya dapat menumbuhkan dan meningkatkan iman kita bersama sebagai pengikut Kristus.Renungan-renungan ditulis oleh Pihak-pihak yang kompeten dibidangnya, bisa oleh Para Uskup, para Imam dlsb. Semoga bermanfaat. Salam dan Berkatku Rm. Klemens Bere. PR
Senin, 13 Agustus 2012
“Jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka”
(Yeh 1:2-5.24-2:1a; Mat 17:22-27)
“Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Hidup sebagai warganegara memang terikat oleh aneka tata tertib dan aturan serta harus melaksanakan-nya sebaik dan seoptimal mungkin. Salah satu tata tertib atau aturan yang secara umum berlaku di seluruh dunia adalah ‘kewajiban membayar pajak’. Salah satu yang menjadi dukungan kemajuan dan perkembangan hidup warganegara adalah ketertiban dan kedisiplinan pembayaran dan pengelolaan pajak. Mayoritas pemasukan anggaran pendapatan suatu Negara berasal dari pembayaran pajak, dan jumlah dana pajak yang masuk difungsikan untuk aneka pelayanan bagi warganegara. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa Yesus bersama para rasul setia membayar pajak agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Maka kami berharap kepada segenap umat beriman atau beragama untuk setia membayar pajak, dan tentu saja para pengurus dan pengelola pajak juga melaksanakan tugas dan fungsinya sebaik dan sejujur mungkin, tidak melakukan korupsi sedikitpun. Maklum jika dicermati para pengurus dan pengelola pajak di negeri kita tercinta ini tidak jujur dan dampaknya para wajib pajak pun juga mangkir untuk membayar pajak atau kong-kalingkong dengan petugas pajak. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam kewajiban membayar pajak, dan para petugas, pegawai dan pengurus jujur dalam menjalankan tugasnya. Ingatlah dan sadari bahwa tindakan korupsi para petugas dan pengelola pajak telah menjadi batu sandungan banyak warganegara untuk membayar pajak seenaknya. Para pegawai negeri atau pemerintahan kami harapkan juga dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran, karana imbal jasa atau gaji bagi anda sekalian berasal dari rakyat, dan hendaknya sungguh berusaha untuk melayani dan mensejahterakan rakyat. Pajak berasal dari rakyat dan harus kembali kepada rakyat dalam aneka bentuk pelayanan bagi rakyat.
· “Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman” (Yeh 1:28). “Busir pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan” memang begitu indah, mempesona dan menarik. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak bagaikan ‘busur pelangi’ tersebut, dengan kata lain dimanapun dan kapanpun cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa indah, mempesona, menarik dan memikat orang lain serta tidak pernah menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan. Para gadis atau perempuan, terutama yang belum menikah dan berusaha mencari jodoh atau pasangan hidup, pada umumnya berusaha menghadirkan sedemikian rupa sehingga menarik, mempesona dan memikat laki-laki yang didambakan menjadi jodoh atau pasangan hidupnya. Semoga hal itu tidak menjadi batu sandungan bagi rekan-rekan laki-laki untuk berpikiran serta melakukan yang jahat atau berdosa. Kami berharap apa yang menjadi daya pesona, daya tarik dan daya pikat buka hanya penampilan hal duniawi atau fisik belaka, tetapi terutama dan pertama-tama adalah yang terkait dengan hal rohani atau spiritual, dengan kata lain tunjukkan bahwa anda adalah pribadi yang baik, suci dan berbudi pekerti luhur, sehingga orang yang terpesona, tertarik dan terpikat pada diri anda menjadi semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan alias semakin hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Biarlah apa yang mempesona, menarik dan memikat dalam diri kita adalah sesuatu yang menunjukkan kemuliaan Tuhan.
“Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya!”(Mzm 148:1-2)
Ign 13 Agustus 2012
*) Sumber Millis KD
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”
“Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut(LG 59). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain” (Katekismus Gereja Katolik no 966). Katekismus Gereja Katolik merupakan ajaran-ajaran perihal iman Katolik, dan mulai bulan Oktober 2012 ini selama setahun ke depan dinyatakan sebagai Tahun Iman, ajakan Pimpinan Gereja Katolik agar segenap umat Katolik mempelajari dan mendalami kembali aneka dokumen resmi Gereja Katolik. SP Maria Diangkat ke sorga merupakan salah satu iman Katolik, maka dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Diangkat ke sorga hari ini saya kutipkan dari Katekismus Gereja Katolik, dan marilah kita renungkan atau refleksikan bersama.
“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:42-45)
Kutipan di atas ini merupakan pujian Elisabeth, yang karena Roh Kudus dalam usia tuanya sedang mengandung anaknya yang pertama, kepada SP Maria yang juga sedang mulai mengandung karena Roh Kudus, mengandung dan akan melahirkan Penyelamat Dunia, yang kedatangan atau kelahiranNya sangat dinantikan oleh umat manusia yang mendambakan keselamatan abadi. Hemat saya rekan-rekan perempuan memang lebih menentukan nasib bangsa manusia, karena mereka yang mengandung anak-anak, generasi mendatang. Pribadi seorang ibu dengan segala cirikhas fisik, spiritual, emosional maupun sosialnya akan sangat mempengaruhi anak yang dikandung dan dilahirkannya. Maka kata-kata Elisabeth terhadap SP Maria “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”, kiranya layak menjadi permenungan rekan-rekan perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya.
Di dalam rahim perempuanlah tumbuh dan berkembang berkat Tuhan, dan dari rahim perempuan lahirlah berkat Tuhan yang membahagiakan, anak manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. Karena SP Maria diimani sebagai teladan hidup beriman, maka kami mengharapkan segenap umat beriman dapat meneladannya, antara lain dari cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa menjadi berkat atau kasih karunia bagi orang lain atau sesama manusia dimana pun dan kapan pun. Menjadi berkat atau kasih karunia antara lain kehadiran dan sepak terjangnya senantiasa mengundang dan memotivasi orang lain tergerak untuk memuji dan memuliakan Tuhan alias semakin beriman atau semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari.
Dalam kutipan Katekismus di atas dikatakan bahwa SP Maria “sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya.”. Kiranya kita semua mendambakan bahwa sesudah menyelesaikan perjalanan hidup kita di dunia ini alias setelah meninggal dunia kita juga segera hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga, maka marilah kita sungguh-sungguh hidup dan bertindak sebagai orang yang memiliki dambaan atau kerinduan mulia tersebut. Untuk itu hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa berusaha untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, tidak melakukan tindakan jahat atau amoral sekecil apapun. Marilah kita sadari dan hayati bahwa ketika baru saja dilahirkan dari rahim ibu, di dunia ini, kita dalam keadaan baik dan suci, maka hendaknya kita sungguh-sungguh mempertahankan dan memperteguh serta memperkembangkan kesucian hidup tersebut. Maka selanjutnya marilah kita renungkan sapaan atau kesaksian iman Paulus di bawah ini.
“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan” (1Kor 15:22-24)
Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita telah “dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”, maka marilah kita mawas diri sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita sungguh menunjukkan bahwa kita berada dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Bersekutu dengan Yesus Kristus berarti menjadi ‘alter Christi’, karena kita sungguh meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus maupun melaksanakan sabda-sabdaNya. Marilah kita tunjukkan persekutuan tersebut dengan hidup bersaudara atau bersahabat dengan siapapun serta senantiasa mengusahakan persaudaraan atau persahabatan sejati di antara umat manusia di bumi ini.
Persaudaraan atau persahabatan sejati pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan. Pada masa kini masih banyak orang yang menyombongkan kekuasaan dan kekuatannya dalam pemerintahan, serta menggunakan kuasa dan kekuatannya hanya untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya, sehingga menimbulkan ketegangan dan percekcokan di sana-sini. Marilah kita binasakan bersama Tuhan orang-orang yang demikian itu, karena mereka sungguh menjadi pemecah belah dan penghancur hidup bersama. Sikap mental bisnis atau materialistis memang masih begitu mendominasi hidup bersama di mana-mana, dan marilah kita hancurkan.
“Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. aka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.” (Why 12:3-5). Penglihatan yang dilukiskan oleh penulis Kitab Wahyu di atas ini kiranya mengingatkan kita akan pepatah yang berbunyi “sorga ada di telapak kaki ibu”. Dengan kata lain jika kita mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera hendaknya jangan pernah melupakan kasih ibu yang luar biasa kepada kita, sebagaimana sebuah nyanyian mengenangkannya :”Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”
“Di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir. Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!” (Mzm 45:10-12)
Ign 12 Agustus 2012
*) Sumber Millis KD
Jumat, 10 Agustus 2012
“Jika ia mati akan menghasilkan banyak buah”
(2Kor 9:6-10; Yoh 12:24-26)
“ Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (Yoh 12:24-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Terpanggil menjadi diakon berarti membantu tugas para rasul untuk melayani ‘meja’, artinya memperhatikan kebutuhan hidup sehari-hari umat Allah, dengan kata lain merasul dalam hal pelayanan harta benda atau seluk-beluk duniawi. Memang untuk masa kini terlibat atau mengelola harta benda duniawi sungguh butuh orang yang beriman, karena tanpa iman terlibat dalam harta benda/uang atau mengelolanya pasti akan cenderung untuk berkorupsi. Dengan kata lain semakin mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi harus semakin beriman. Maka dalam rangka mengenangkan St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri dalam hal penghayatan rahmat kemartiran kita. Hemat saya mengelola atau mengurus harta benda duniawi atau seluk-beluk duniawi dengan baik dan benar pada masa kini merupakan salah satu bentuk penghayatan kemartiran yang mendesak dan up to date kita hayati dan sebarluakan pada masa kini. Mereka yang bertugas mengelola atau mengurus harta benda dan uang dengan jujur dan disiplin memang ‘harus berani mati’ artinya ada kemungkinan dibenci dan diamat-amati terus-menerus dengan tujuan jahat atau jelek. Di jajaran pemerintahan Indonesia masa lalu sampai kini rasanya orang jujur dan benar maupun pejuang kebenaran dan kejujuran senantiasa harus siap sedia disingkirkan, bahkan siap sedia mati. Dalam hal ini saya teringat pada tokoh Munir, dari Kontras, yang penyebab kematiannya sampai kini masih dijadikan misteri. Kasus kerusuhan bermotif agama di Pandeglang maupun Temanggung tahun lalu hemat saya merupakan usaha mematikan pejuang kebenaran dan kejujuran dalam rangka membongkar korupsi di negeri ini, dengan kata lain bukan kerusuhan agama, melainkan pembelokan perhatian rakyat dari masalah korupsi alias bermotif ekonomi atau duniawi. Begitulah sikap mental orang-orang duniawi yang seenaknya menghabisi kebenaran dan kejujuran.
· “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2Kor 9:6-8). Kutipan di atas ini kiranya megingatkan kita semua bahwa manusia maupun harta benda pada dirinya sendiri sebenarnya bersifat sosial, maka jika kita sungguh beriman diharapkan senantiasa hidup dan bertindak sosial dimana pun dan kapan pun. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau korban gotong-royong, antara Tuhan dan orangtua, dan bapak serta ibu kita masing-masing. Ada dan pertumbuhan serta perkembangan diri kita sampai kini karena dan oleh gotong-royong, maka jika kita tidak hidup bergotong-royong atau sosial berarti kita mengingkari jati diri kita masing-masing. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, maka segala jenis dan bentuk harta benda yang tercipta oleh manusia juga bersifat sosial. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang untuk hidup sosial, hendaknya jangan hanya berkelebihan dalam hal harta benda atau uang saja, tetapi juga berkelebihan dalam hal kebajikan-kebajikan. Semakin kaya akan harta benda atau uang kami harapkan juga semakin kaya akan kebajikan-kebajikan. Maklum cukup banyak orang yang kaya akan harta benda atau uang di Indonesia saat ini sering begitu teliti dan penuh dengan hitung-hitungan sehingga tumbuh berkembang ke bersikap mental bisnis alias materialistis, kurang atau tidak sosial.
“Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.” (Mzm 112:5-8)
Ign 10 Agustus 2012
*) Sumber Millis KD
Langganan:
Postingan (Atom)