Kamis, 09 Agustus 2012

“Engkau bukan memikirkan apa yg dipikirkan Allah melainkan apa yg dipikirkan manusia.”

(Yer 31:31-34; Mat 16:13-23) “Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Sikap mental materialistis sudah begitu menjiwai banyak orang, sehingga pikirannya senantiasa terarah atau terkonsentrasikan pada hal-hal dunia atau mungkin manusiawi, namun tidak sampai pada Yang Ilahi. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman, untuk senantiasa mengarahkan pikiran kepada Yang Ilahi atau Allah. Ingatlah dan sadari bahwa apa yang akan kita lakukan pada umumnya sangat tergantung pada apa yang kita pikirkan: begitu bangun pagi hari kita memikirkan apa, itulah yang akan kita lakukan sepanjang hari atau menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita sepanjang hari. Kami berharap begitu bangun pagi pikiran diarahkan kepada Yang Ilahi atau Allah, antara lain begitu bangun segera berdoa singkat untuk berterima kasih dan bersyukur kepada Allah bahwa masih dianugerahi hidup dan kesehatan, dan dengan rendah hati mohon rahmat dan bantuan Allah agar sepanjang hari yang akan dilalui atau dijalani senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah. Mengarahkan pikiran kepada Allah berarti senantiasa memikirkan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Jika kita senantiasa memikirkan yang demikian itu, maka sepanjang hari kita pasti senantiasa melakukan apa yang baik, dan tidak pernah mengecewakan orang lain. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari tidak menjadi batu sandungan bagi saudara-saudari kita untuk berbuat jahat. · “ Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 31:33), demikian firman Tuhan melalui nabi Yeremia. Marilah firman Tuhan ini kita tanggapi dengan rendah hati dan keterbukaan. Apa yang ada dalam hati dan batin memang mempengaruhi atau menjiwai cara berpikir atau pikiran kita. Apa yang ada di dalam batin dan hati bagaikan ‘akar’ dalam sebuah tanaman, tidak kelihatan di permukaan, namun sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang bersangkutan. Kami berharap agar batin dan hati senantiasa memperoleh perhatian yang memadai dalam aneka bentuk pendidikan atau pembinaan, entah di dalam keluarga, sekolah atau masyarakat. Salah satu usaha untuk itu antara lain rajin untuk membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Atau mungkin anda mempunyai rumusan singkat visi atau spiritualitas, baiklah jika rumusan kata-kata singkat tersebut ditulis dengan baik dan kemudian ditaruh di atas meja atau ditempel di pintu-pintu kamar kita, sehingga setiap hari dapat melihat dengan harapan juga dapat mencecap dalam-dalam visi atau spiritualitas tersebut dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Kami percaya bahwa anda semua masing-masing memiliki motto hidup pribadi atau bersama, baiklah motto tersebut dicecap dalam-dalam. “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu” (Mzm 51:12-15) Ign 9 Agustus 2012 *) Sumber Millis KD

Rabu, 08 Agustus 2012

“Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya."

(1Kor 2:1-10a; Luk 9:57-62) “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Dominikus, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · St Dominikus dikenal sebagai pengkotbah ulung dan mendirikan Ordo Pengkotbah. Sebagai imam pengkotbah ia tak kenal lelah keliling ke mana-mana guna mewartakan Kabar Baik, Injil, dan ia menjadi pembaharu dalam kotbah, mengingat dan memperhatikan para imam pada masanya pada umumnya berkotbah seenaknya, tidak bersumber pada Kitab Suci atau Injil. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak siapa saja yang berkotbah untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, antara lain membaca dan merenungkan bacaan-bacaan dari Kitab Suci yang akan dibacakan serta dijadikan bahan utama dalam kotbah. Dalam berkotbah atau mewartakan Kabar Baik kita dapat meneladan atau bercermin pada Yesus sendiri, yang senantiasa menyampaikan ajaran-ajaran atau kotbah-kotbahNya dengan sederhana, antara lain dengan mengangkat pengalaman hidup sehari-hari sebagai bahana penyampaian ajaran atau kotbah-kotbahNya. Ada pepatah bahwa “orang pandai sejati dapat menyederhanakan apa yang sulir berbelit-belit sehingga dapat diketahui dan dfahami oleh semua orang, sebaliknya orang bodoh membuat apa yang sederhana dan mudah menjadi sulit berbelit-belit”. Sebagai contoh: panas terjadi karena gesekan benda-benda atau zat-zat tertentu, maka ketika anggota badan kita saling bergesekan menjadi hangat (ingat orang berpelukan!). Memang dalam berkotba atau mewartakan Kabar Baik kita harus dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk meninggalkan cara-caranya sendiri atau cara-cara masa lalu, sebagai warisan yang harus diperbaharui. Dengan kata lain marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan charisma atau spiritualitas yang telah kita peluk dan geluti. · “Ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh”(1Kor 2:1-4). Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk terus-menerus memahami dan mengenal Yesus Kristus, dan usaha untuk ini tidak lain adalah dengan membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau Injil. Memang agar kita dapat memahami dan mengimani dengan baik apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau Injil kita harus berusaha hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh, karena apa yang ada di dalam Kitab Suci ditulis dalam dan oleh ilham Roh, Allah. Dan apa yang ditulis dalam ilham Roh atau Allah “memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16). Hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh hemat saya berarti senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati dan terbuka terhadap aneka kemungkinan, kesempatan atau perubahan. Orang senantiasa siap sedia untuk berubah, dan tentu saja berubah semakin baik, semakin suci, semakin menyerupai cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus. Hendaknya kita juga senantiasa siap sedia untuk diajar, menerima ajaran-ajaran baru, siap sedia diperbaiki kelakuan dan dididik dalam kebenaran. “Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.” (Mzm 95:1-3) Ign 8 Agustus 2012 *) Sumber Millis KD

"Tenanglah! Aku ini jangan takut!"

(Yer 30:1-2.12-15.18-22; Mat 14:22-36) “ Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh” (Mat 14:22-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · “Jangan takut” merupakan sabda Tuhan yang terarah kepada orang-orang yang terpilih untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan. Dalam kisah Warta Gembira hari ini diceriterakan para rasul yang ketakutan karena dalam perjalanan melalaui danau diombang-ambingkan oleh ombak: mereka takut perahu karam dan akhirnya semuanya tenggelam. Karena ketakutan mereka, Yesus yang datang untuk menyertai mereka pun disikapi sebagi hantu yang menakutkan. Kisah ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri atau permenungan kita, dimana dalam perjalanan penghayatan panggilan serta pelaksanaan tugas pengutusan kita sering menghadapi masalah, tantangan, godaan dan jebakan, yang menakutkan dan dapat menenggelamkan kita ke dalam arus kejahatan. Sebagai orang beriman, marilah kita sadari dan hayati bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, melainkan Dia terus-menerus menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, tugas dan panggilan kita. Maka marilah kita lihat dan hayati kehadiran dan karyaNya dalam apa yang baik, indah, luhur dan mulia di tengah-tengah kita, yang antara lain menjadi nyata dalam diri orang yang berkehendak baik. Kami percaya bahwa kita semua berkehendak baik, maka marilah saling mengkomunikasikan kehendak baik kita serta kemudian kita sinerjikan guna menghadapi aneka masalah, tantangan, hambatan dan godaan. Dalam kebersamaan dengan Tuhan maupun saudara-saudari kita yang berkehendak baik tidak ada ketakutan sedikitpun. Penakut berarti kalah sebelum perang atau berjuang, marilah kita menjadi pemberani karena Tuhan senantiasa menyertai. · “Sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli.” (Yer 30:18), demikian Firman Tuhan melalui nabi Yeremia terhadap bangsa terpilih yang sedang berada dalam masa pembuangan. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, khususnya yang sedang dalam mengalami krisis, frustrasi atau takut karena penderitaan akibat dari kelalaian para pendahulu kita. Karena kelalaian para pendahulu kita maka ada kemungkinan hidup bersama amburadul, tak nyaman dan tak sejahtera dan tak damai-tenteram. Sekali lagi marilah kita lihat dan akui saudara-saudari kita yang berkehendak baik untuk memperbaiki situasi dan kondisi kehidupan bersama, kita dengarkan kehendak baik dan niatnya serta kemudian kita menyatukan diri dengannya. Di tengah-tengah kehidupan kita bersama pasti ada orang-orang yang menghayati rahmat kenabian, sehingga dengan rendah hati dan tekun menyuarakan aneka kebenaran dan ajakan guna memperbaiki situasi dan kondisi hidup bersama. Fungsi macam itu antara lain ada dalam diri para pemuka-pemuka agama: kyai, pendeta, pastor, biksu dst.., maka marilah kita dengarkan ajaran, nasihat, petuah, kotbah dan saran mereka , serta kemudian kita hayati bersama-sama guna memperbaiki hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Kepada para pemuka agama kami berharap tidak jemu-jemu dan terus-menerus mengingatkan dan mengajak umatnya untuk senantiasa hidup dan bertindak baik, sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekali lagi kami ingatkan bahwa saat ini kita berada dalam masa puasa saudara-saudari kita, umat Islam, maka marilah menyatukan diri pada mereka dalam rangka usaha memperbaiki diri, maupun situasi dan kondisi lingkungan hidup bersama. “Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm 102: 19-22) Ign 7 Agustus 2012 *) Sumber Millis KD