Kamis, 19 April 2012

“Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan”

(Kis 5:34-42; Yoh 6:1-15)
Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.” (Yoh 5:1-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kisah sebagaimana diceriterakan dalam Warta Gembira hari ini divisualisasikan ke dalam sebuah ikon (kaca) yang terpasang di atas tabernakel di kapel Kolese Kanisius – Jakarta. Kisah ini juga mengingat-kan saya akan suatu pengalaman yang sangat mengesan, yaitu ketika saya bepergian/dalam penerbangan dengan pesawat KLM dari Jakarta ke Amsterdam. Kebetulan di dalam pesawat tersebut saya memperoleh tempat  duduk dekat gang dan disamping saya adalah anak kecil, laki-laki, kurang lebih berusia 13 tahun, bersama ibunya yang duduk di kursi dekat jendela. Di tengah perjalanan, di tengah malam, tiba-tiba sang anak minta diambilkan tas kecil di dalam bagasi, dan kemudian dibukanya tas itu serta diambil roti-roti yang terbungkus plastik. Tiba-tiba anak tersebut menegor saya seraya mengulurkan bungkusan roti yang telah terbuka :”Please, take one”. Saya sunggu terharu pada anak kecil ini. Bukankah apa yang dilakukan anak ini sesuai dengan anak dalam kisah Warta Gembira hari ini, yang memiliki ‘lima potong roti dan dua ikan’, kemudian dipersembahkan kepada Tuhan Yesus, diberkati dan berlipat-gandalah roti dan ikan tersebut sehingga ribuan orang lapar dapat makan sampai kenyang? “Berbagi dan peduli”, itulah tema APP yang baru saja kita renungkan dan refleksikan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk hidup dan bertindak social, peka terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup kita. Jauhkan aneka bentuk keserakahan dalam hidup anda.
·   Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:41-42). “Menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”, inilah yang kiranya baik kita renungkan dan hayati. Dalam melaksanakan tugas pengutusanNya Yesus telah menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati, maka selayaknya jika kita setia sebagai murid, pengikut atau sahabat Yesus pada suatu saat harus menderita aneka penghinaan, pelecehan atau cemoohan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang hidup dan bertindak tanpa iman. Penderitaan yang lahir atau muncul karena kesetiaan pada iman, panggilan dan tugas pengutusanm adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka ketika harus menderita demikian itu hendaknya tatap bergembira dan bergairah. Keberanian anda dalam Nama Tuhan untuk menderita akan menghasilkan buah-buah keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang membahagiakan dan menyelamatkan. Sabar datangnya dari penderitaan harus menunggu atau antri, lemah lembut dan rendah hati datang ketika direndahkan atau dilecehkan, dst… Marilah kita setia untuk melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, meskipun untuk itu kita harus menerima aneka penderitaan.
Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN”
(Mzm 27:13-14)
Ign 20 April 2012
*) Sumber Millis KD

“Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya”

(Kis 5:27-33; Yoh 3:31-36)
“ Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." (Yoh 3;31-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yesus adalah Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, Ia telah datang dari sorga dan turun ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya. Dalam cara hidup dan cara bertindakNya Ia senantiasa “memberi kesaksian tentang apa yang dilihatNya dan apa yang didengarNya” , yang tidak lain adalah kebenaran sejati. Maka siapapun yang percaya kepadaNya mengakui bahwa Allah adalah benar serta menerima anugerah Roh dengan tak terbatas, serta kemudian meneladan Yesus dengan memberi kesaksian tentang apa yang dilihat dan didengarnya. Karena menerima anugerah Roh dan dengan demikian hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh, maka yang dilihat dan didengarkan tidak lain adalah apa-apa yang membahagiakan dan menyelamatkan, terutama kebahagiaan dan keselamatan jiwa. Kebahagiaan atau keselamatan jiwa merupakan dambaan, harapan, cita-cita yang utama dan pertama-tama serta mengatasi aneka dambaan, harapan dan cita-cita lainnya. Dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak orang yang hidup dari dan oleh Roh bercirikhas spiritual, tidak hanya social atau phisik. Ia senantiasa hidup dan bertindak dalam dan oleh cintakasih dimana pun dan kapan pun, menyadari dan menghayati diri sebagai cintakasih atau angerah Allah, yang kemudian menyalurkan cintakasih atau anugerah Allah kepada siapapun dan dimanapun. Cara hidup dan cara bertindak orang yang hidup dari dan oleh Roh juga memotivasi orang lain untuk menyadari dan menghayati diri sebagai cintakasih atau anugerah Allah, serta kemudian senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah.
·    "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.” (Kis 5:29-32), demikian jawaban Petrus dan para rasul kepada Imam Besar di dalam Mahkamah Agama. “Harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”, inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Kita semua berasal dari Allah dan pada waktunya diharapkan kembali kepada Allah, maka selayaknya jika kita lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Di dalam hidup kita bersama kita memiliki aneka tata tertib atau aturan yang harus kita hayati atau laksanakan. Hemat saya semua tata tertib atau aturan dibuat dan diundangkan atau diberlakukan atas dasar dan demi cintakasih, maka hendaknya semua tata tertib atau aturan disikapi dalam dan oleh cintakasih. Jika kita menyikapi aneka tata tertib atau aturan dengan dan dalam cintakasih, maka jika ada hal yang tidak sesuai dengan kehendak Allah segera diluruskan atau dibetulkan, sedangkan yang sesuai dengan kehendak Allah segera dilaksanakan. Semua keputusan atau kebijakan yang tidak menyelamatkan jiwa manusia berarti berlawanan dengan kehendak Allah; taat kepada Allah berarti senantiasa membuat keputusan atau kebijakan yang menyelamatkan jiwa manusia, entah jiwa kita sendiri maupun jiwa orang lain yang kena dampak keputusan atau kebijakan kita. Dalam iman kita imani bahwa semua pemimpin adalah wakil Allah di dunia ini, maka siapapun yang menjadi pemimpin dalam kehidupan bersama dalam bentuk dan tingkat  apapun kami harapkan senantiasa membuat keputusan atau kebijakan yang sesuai dengan kehendak Allah, antara demi kesejahteraan umum/bersama, bukan demi keuntungan atau kenikmatan pribadi, sebagaimana telah dihayati para tokoh politik masa kini. Kebanyakan para tokoh politik masa kini hanya berusaha untuk memperkaya diri dengan melakukan aneka bentuk korupsi.
Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu” (Mzm 34:17-20)
Ign 19 April 2012
*) Sumber Millis KD

Rabu, 18 April 2012

“Ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia”

(Kis 5:17-26; Yoh 3:16-21)
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah” (Yoh 3:16-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yesus adalah Penyelamat Dunia, yang diutus ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia. Ia datang ke dalam dunia sebagai ‘terang’ yang menerangi seluruh dunia seisinya, bukan untuk membuat gelap dunia. Maka mereka yang suka berbuat jahat pasti akan membenciNya, sebaliknya mereka yang suka berbuat baik akan mengasihiNya. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk “datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah”. Dengan kata lain kita dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan jujur dan terbuka, ‘terang-terangan’, tidak dengan sembunyi-sembunyi. Ingatlah juga jika anda suka melakukan apa yang jahat atau tak bermoral secara sembunyi-sembunyi pada suatu saat akan ketahuan juga, sebagaimana dikatakan oleh sebuah pepatah “Sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh suka”. Tidak ada rahasia yang tak mungkin tersingkap atau terbuka, semua rahasia pasti dapat disingkapkan atau dibuka. Hidup dan bertindak dalam ‘terang’ antara lain berarti ketika bepergian memberitahu kepada rekan-rekan atau anggota keluarga/komunitas ke mana pergi dan kapan akan kembali, dan hendaknya apa yang telah dikatakan atau diberitahukan juga dilaksanakan dengan setia. Alangkah indahnya juga jika kemudian menceriterakan kepada rekan-rekan atau anggota komunitas/ keluarga aneka pengalaman yang terjadi selama bepergian, sebaliknya mereka yang ditinggalkan hendaknya  juga terbuka atas apa yang terjadi. Anak-anak hendaknya sedini mungkin dididik dan dibiasakan dalam hal kejujuran dan keterus-terangan ini di dalam keluarga, serta diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah, dengan teladan para orangtua maupun guru/pendidik.
·   "Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak." Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka” (Kis 5:25-26). Mujizat telah terjadi yaitu Petrus dan Yohanes yang berada di dalam penjara dibebaskan oleh malaikat Allah, tanpa diketahui oleh para penjaga penjara. Maka ketika mereka melihat Petrus dan Yohanes berdiri di Bait Allah sambil mewartakan Kabar Baik, mereka pun berusaha mengambil Petrus dan Yohanes untuk dikembalikan ke dalam penjara, namun tidak dengan kekerasan. Kiranya para tokoh Yahudi bersama dengan para pengikut mereka mulai percaya juga bahwa Allah hidup dan berkarya dalam diri para rasul. Mereka takut kepada orang banyak yang mulai percaya kepada pemberitaan Petrus dan Yohanes. Kisah ini kiranya dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, yaitu bahwa kita tidak perlu takut dan gentar mewartakan Kabar Baik, senantiasa berbuat baik atau melakukan apa yang baik, meskipun untuk itu sering harus menghadapi para penguasa yang iri serta berusaha menyingkirkan atau menghabisi kita. Percayalah bahwa mereka yang berkehendak baik serta suka akan apa yang baik dan benar lebih banyak daripada mereka yang suka akan kejahatan, kebohongan dan kepalsuan. Sekejam-kejamnya atau sekeras-kerasnya orang dalam kata atau omongan, kiranya masih memiliki hati yang rindu akan kebaikan dan perdamaian, maka hadapilah mereka dengan rendah hati dan cintakasih, karena dengan demikian mereka pasti tidak akan berkata dan bertindak keras lagi. Malaikat Allah senantiasa mendampingi perjalanan penghayatan hidup dan panggilan kita, maka hendaknya tetap tegar dan tenang dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan.
“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.” (Mzm 34:2-5)
Ign 18 April 2012
  *) Sumber Millis KD