Jumat, 02 Maret 2012

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

(Ul 26:16-19; Mat 5:43-48)
“ Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkatah kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:43-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Dalam dialog atau percakapan antar umat beragama se wilayah Kedu-Jawa Tengah yang diselenggarakan selama tiga hari di Hotel Trio-Magelang bulan September 2011 yang lalu ada seorang peserta yang mengangkat-angkat perihal ‘perang salib’, seraya membeberkan bahwa hal itu yang membekas di kalangan sementara umat Islam kurang bersahabat dengan atau bahkan memusuhi umat Kristen/Katolik. Saya pribadi heran dan bertanya-tanya mengapa peristiwa yang terjadi nun jauh di sana sekian tahun yang lalu masih begitu membekas, padahal mereka sebenarnya tidak tahu persis apa yang terjadi pada waktu itu. Maka ketika saya memperoleh giliran sebagai pembicara, saya pertama-tama mengangkat sabda Yesus, sebagaimana menjadi judul refleksi hari ini yaitu “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Memang kita semua pasti memiliki musuh-musuh, yaitu apa-apa saja yang tidak sesuai dengan selera pribadi dan ada kemungkinan juga apa-apa yang tidak kita ketahui dan tidak kita alami sendiri. Makanan, minuman, cuaca, pekerjaan, sesama manusia, binatang, tanaman atau harta benda dapat menjadi musuh-musuh kita. Sebagai orang beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya atau mempersulit jalan hidup, tugas dan fungsi kita. Jika merasa masih berat untuk mengasihi secara konkret dengan bertatap muka, baiklah kita doakan dahulu. Dalam doa akhirnya kita akan memperoleh keberanian dan kekuatan untuk mengasihi musuh-musuh kita. Apa yang diajarkan oleh Yesus memang sungguh berat, namun mulia sekali, maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan agar kita senantiasa hidup saling mengasihi dan mengampuni dimana pun dan kapan pun.
·    "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkau pun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya.” (Ul 26:16-17). Kita semua diingatkan dan diajak untuk senantiasa dengan setia melakukan ketetapan dan peraturan, yang berlaku serta terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Maka baiklah saya mengajak dan mengingatkan kita semua selama masa Prapaska ini baiklah jika kita baca dan renungkan ketetapan dan peraturan sebagaimana tertulis di dalam Konstitusi, Pedoman Hidup, Anggaran Dasar, Aneka Keputusan dan Kebijakan dst… Alangkah baiknya jika dokumen-dokumen tersebut menjadi bacaan rohani harian selama masa Prapaska ini. Dengan kata lain saya mengajak kita semua untuk ‘back to the basic’, jati diri kita masing-masing sebagai umat beriman, beragama, imam, bruder, suster, anggota Lembaga Hidup Bakti, Anggota organisasi, dst..  Kami percaya bahwa yang mendasari cara hidup yang telah kita pilih dan geluti sampai kini sungguh mulia, baik dan luhur, yang mengarahkan dan menuntun kita agar kita semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin suci, semakin baik, semakin berbudi pekerti luhur. Marilah kita baca dan dengarkan dengan rendah hati aneka ketetapan dan peraturan yang terkait dengan panggilan, hidup dan tugas pengutusan kita masing-masing. Jika kita sungguh membaca dan mendengarkan dengan rendah  hati, kami percaya kita akan tergerak untuk melaksanakan atau menghayati ketetapan dan peraturan tersebut. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa keunggulan hidup beriman atau beragama terletak pada penghayatan atau pelaksanaan, bukan wacana atau omongan.
“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!” (Mzm 119:1-2.4-5)
Ign 3 Maret 2012
*) Sumber Millis KD

“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum”

(Yeh  18:21-28; Mat 5:20-26)
“ Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Mat 5:20-26), demikian kutipan  Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Jika kita dengan jujur dan benar mawas diri kiranya tidak ada seorangpun diantara kita yang tidak pernah marah. Wujud marah yang paling lembut adalah mengeluh atau menggerutu, sedangkan yang paling kasar adalah membunuh. Bukankah kita jika menghadapi apa yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau keinginan diri sendiri, kemudian mengeluh atau menggurutu? Misalnya: makanan kurang enak atau tidak sesuai dengan selera pribadi mengeluh, menghadapi pekerjaan sedikit berat atau sulit mengeluh, jalanan macet mengeluh dst.. Yesus bersabda bahwa siapa yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Hemat saya tidak perlu dihukum orang yang marah pada umumnya sudah terhukum dengan sendirinya, yaitu ia semakin terasing atau kurang dicintai oleh sesamanya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk tidak mudah mengeluh, menggerutu atau marah-marah. Cara mengatasinya adalah senantiasa berusaha untuk ‘menikmati apa yang ada di depan kita atau yang harus kita kerjakan atau makan’. Dalam hal makan misalnya: enak dan tidak enak hanya sebentar saja yaitu di lidah, maka jika makanan tidak enak asal sehat telan saja tanpa dikunyah, karena Tuhan telah menganugerahi kita mesin penggiling/pengolah yang handal dan hebat di dalam tubuh/usus kita. Pendek kata jika sehat nikmati saja, tak perlu dirasa-rasakan. Maka kami berharap agar anak-anak di dalam keluarga dididik untuk senantiasa membiasakan diri menikmati jenis makanan apapun yang sehat, karena jika tidak ada masalah dalam hal makanan hemat kami yang bersangkutan juga tidak akan mudah marah, mengeluh atau menggerutu ketika harus menghadapi apa-apa yang tidak sesuai dengan selera pribadinya.
·   Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya.” (Yeh 18:20-21). Kutipan ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua jika kita menghendaki hidup bahagia, selamat dan damai sejahtera selama hidup di dunia ini maupun setelah meninggal dunia nanti. Marilah kita jauhkan perbuatan dosa sekecil apapun dan senantiasa berusaha untuk “berpegang pada segala ketetapan Tuhan serta melakukan keadilan dan kebenaran”. Segala ketetapan Tuhan hemat saya mengarahkan dan mengajak kita untuk senantiasa melakukan keadilan dan kebenaran. Berbuat adil dan benar antara lain dapat kita wujudkan dengan senantiasa menjujung tinggi harkat martabat manusia di dalam hidup sehari-hari, tidak pernah melanggar hak-hak asasi manusia atau melecehkan harkat martabat manusia. Marah, mengeluh atau menggerutu terhadap sesama manusia hemat saya merupakan bentuk pelecehan harkat martabat manusia. Memang kita boleh memarahi sesama kita jika yang bersangkutan melecehkan harkat martabat manusia, sebagaimana Yesus memarahi para pedagang di Bait Allah atau tempat ibadat, karena mereka mengkormersielkan tempat suci.  Apa yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang dalam hal marah pada umumnya karena ketidaksesuaian dengan selera pribadi saja.
“Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.” (Mzm 130:1-4)
Ign 2 Maret 2012
*) Sumber Millis KD

Kamis, 01 Maret 2012

“Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya”

(Est 4:10a.10c.12.17-19; Mat 7:7-12)
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada ereka yang meminta kepada-Nya." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 7:7-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·    Berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beragama atau beriman; mengaku beragama atau beriman tetapi tidak pernah berdoa setiap hari berarti pembohong. Memang ada orang malas berdoa atau tidak mau berdoa lagi karena merasa tidak ada gunanya, doa-doanya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan. Ada kemungkinan mereka salah berdoa atau berdoa mohon kepada Tuhan bukan apa yang berkenan pada Tuhan, bukan apa yang baik. Apa yang baik adalah apa-apa yang menyelamatkan jiwa manusia, maka ketika berdoa mohon kepada Tuhan hendaknya mohon apa-apa yang baik, yang menyelamatkan jiwa. Jika dicermati doa-doa  permohonan dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu dapat dilihat contoh-contoh: pertama-tama mendoakan para pemimpin kita, entah pemimpin bangsa maupun Gereja/Agama, kemudian berdoa bagi mereka yang miskin dan berkekurangan dan baru kemudian berdoa bagi diri sendiri, yang isinya adalah agar dapat menghayati sabda Tuhan sebagaimana diwartakan hari ini. Kita perlu mendoakan para pemimpin karena mereka memiliki tugas berat dan mulia yaitu harus bekerja dan berjuang demi kesejahteraan dan keselamatan jiwa rakyat atau umat Allah. Kita berdoa bagi mereka yang miskin dan berkekurangan agar dengan rendah hati berani menyatukan diri dengan Yesus yang telah memiskinkan DiriNya untuk memperkaya orang lain, dan tentu saja mohon agar Tuhan mengutus orang-orang untuk menolong mereka yang miskin dan berkekurangan. Mohon untuk diri sendiri adalah agar kita menjadi pelaksana-pelaksana sabda Tuhan. Jika kita mohon yang demikian itu percayalah bahwa permohonan kita pasti dikabulkan. Yang tidak boleh dilupakan adalah doa syukur dan terima kasih karena kita telah menerima anugerah Allah secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan kita, berbuat baik kepada kita.
·   "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.” (Est 4:16-17). Berpuasa demi tujuan atau maksud yang baik, itulah kiranya isi utama dari kutipan di atas ini. Dan memang kiranya siapapun yang melakukan puasa pasti mendambakan sesuatu yang baik, yang membahagiakan dan menyelamatkan jiwa manusia. Coba perhatikan dan cermati kisah-kisah mereka yang bertapa dan berpuasa di tempat-tempat sepi dan sunyi untuk beberapa waktu! Bukankah mereka melakukan yang demikian itu demi tujuan yang mulia, yang baik dan menyelamatkan jiwa manusia? Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua , yang sedang berada dalam masa Puasa atau masa Berahmat atau Retret Agung umat ini, untuk melakukan matiraga demi tujuan yang baik dan yang menyelamatkan atau membahagiakan jiwa. Hal ini kiranya juga dapat kita hayati secara positif, artinay selama masa Prapaska ini kita lebih meningkatkan dan memperdalam penghayatan panggilan maupun pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, sehingga yang terpanggil menjadi imam semakin menjadi penyalur doa umat kepada Tuhan dans sebaliknya juga menjadi penyalur berkat Tuhan bagi umat, yang menjadi bruder atau suster semakin membaktikan diri seutuhnya  kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesamanya, yang menjadi suami-isteri semakin saling mengasihi, yang bertugas belajar semakin terampil dalam belajar, yang bekerja semakin terampil dalam bekerja, dst.. Hendaknya kita berusaha juga untuk melebihi dari apa yang diharuskan atau yang semestinya, dan jangan sampai kurang dari apa yang semestinya.
“ Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.”
(Mzm 138:1-3)
Ign 1 Maret 2012 
*) Sumber Millis KD