Selasa, 14 Februari 2012

“Ia mengutus mereka berdua-dua mendahuluiNya”

(Kis 13:46-49; Luk 10:1-9)
“Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Sirilus, pertapa, dan St.Metodeus, uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Melaksanakan tugas pengutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah atau Allah yang Meraja memang cukup berat dan sarat dengan tantangan, hambatan maupun masalah, maka tak mungkin dilaksanakan sendirian saja. Tugas pengutusan tersebut harus kita laksanakan bersama-sama, saling membantu satu sama lain alias harus bergotong-royong. Dua santo yang kita kenangkan hari ini berbeda satu sama lain dalam tugas pekerjaan mereka serta kita kenangkan bersama-sama; dengan kata lain dalam rangka mengenangkan dua santo hari ini kita diingatkan pentingnya kerjasama dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan. Kerjasama itu sungguh kita butuhkan karena kita berbeda satu sama lain. Pertama-tama marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah kerjasama bapak-ibu kita masing-masing bersama dengan Tuhan. Karena kita adalah buah kerjasama, maka hanya akan tumbuh berkembang dengan baik, serta kemudian dapat melaksanakan tugas pekerjaan maupun menghayati panggilan, jika kita bekerjasama. Untuk dapat bekerjasama dengan baik hemat kami kita harus bersikap rendah hati, terbuka dan rela berkorban. Pengorbanan kita wujudkan dengan mengerahkan kemampuan, bakat, keterampilan bagi saudara-saudari kita, sedangkan rendah hati berarti kita terbuka atas kebaikan dan sumbangan saudara-saudari kita. Dengan demikian kita akan saling belajar dan mengajar, saling memberi dan menerima, sehingga kita semakin diperkaya satu sama lain. Dalam kerjasama hendaknya masing-masing menyadari dan menghayati fungsinya sendiri, dan dengan sungguh-sungguh berfungsi ketika dibutuhkan; selain itu hendaknya kita juga peka terhadap yang lain, lebih-lebih mereka yang membutuhkan bantuan kita.
·   “ Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." (Kis 13:47), demikian pesan atau sabda Tuhan kepada Paulus, yang selayaknya kita hayati juga sebagai pesan kepada kita semua umat beriman. Kita semua dipanggil untuk menjadi ‘terang’ bagi saudara-saudari kita, semua bangsa di dunia. Kehadiran, sepak terjang, cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun diharapkan menjadi ‘terang’ bagi siapapun, artinya dapat menjadi fasilitator bagi orang lain dalam rangka melaksanakan tugas pengutusan atau menghayati panggilan. Memang untuk itu kita sendiri diharapkan senantiasa berada di dalam ‘terang’ alias berjalan dalam kehendak Tuhan. Secara konkret hal itu berarti kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing: sebagai imam, bruder, suster atau suami-isteri yang baik serta layak menjadi teladan atau inspirator bagi rekan-rekan sepanggilan dan setugas pengutusan. Fungsi menjadi ‘terang’ secara khusus kiranya perlu dihayati oleh mereka yang menjadi pemimpin, guru/pendidik atau siapapun yang berpengaruh bagi kehidupan dan kerja bersama. Cara hidup dan cara bertindak mereka hendaknya menjadi ‘terang’ bagi orang lain: bawahan, peserta didik dst..  Tentu saja kita semua umat beriman dipanggil untuk saling menerangi satu samaa lain, maka baiklah ketika kita melihat saudara-saudari kita yang berada di dalam kegelapan alias sedang bingung, frustrasi atau tertekan, hendaknya segera didatangi dan ditolong, jangan dibiarkan saja.
“Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” (Mzm 116:1-2)
Ign 14 Februari 2012
*) Sumber Millis KD

Senin, 13 Februari 2012

“Mengapa angkatan ini meminta tanda?”

(Yak 1:1-11; Mrk 8:11-13)
“ Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.” (Mrk 8:11-13), demikian  kutipan  Warta  Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Orang-orang Farisi merasa tersaing oleh kehadiran dan pelayanan Yesus, maka mereka berusaha untuk menjebakNya, antara lain dengan mencobai Dia  meminta suatu tanda dari sorga bahwa Dia datang dari sorga dan Allah yang menjadi Manusia. Karena permintaan mereka bukan merupakan kerinduan akan Mesias, Penyelamat Dunia, maka Yesus tidak menanggapi permintaan mereka, melainkan meninggalkan mereka. Sebagai orang beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus, kita diharapkan peka terhadap tanda dan kehadiran maupun karya Allah dalam hidup sehari-hari kita dimana pun dan kapanpun, demikian juga kita diharapkan percaya kepada utusan-utusan Allah, seperti para imam/pastor, pendeta, kyai dst.., yang telah dipilih dan diutus oleh Allah untuk mewartakan apa yang baik dan yang berasal dari Allah. Kami harapkan anda semua juga tidak seperti orang-orang Farisi yang iri dan merasa tersaing oleh kehadiran dan pelayanan orang-orang baru di lingkungan hidup kita yang mungkin kemudian lebih tenar, menarik dan mempesona daripada diri kita saat ini. Berbagai bentuk pembaharuan atau reformasi dibutuhkan bagi kita semua dalam kehidupan kita masa kini maupun masa mendatang, maka marilah kita senantiasa terbuka terhadap aneka macam usaha dan bentuk pembaharuan atau reformasi. Demikian juga kami berharap kepada kita semua untuk memperhatikan regenerasi: mereka yang telah tua hendaknya menyadari diri untuk pelan-pelan mengundurkan diri serta memberi kemungkinan dan keleluasaan kepada generasi muda untuk mengambil alih peran dan fungsi anda. Sebaliknya kepada generasi muda kami harapkan tidak takut dan tidak gentar untuk memperbaharui apa-apa yang sungguh dibutuhkan dan perlu di dalam hidup dan pelayanan bersama masa kini.
·   Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yak 1:2-4). “Ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” inilah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan. Tumbu berkembang dalam iman memang tak akan pernah lepas dari aneka macam tantangan, masalah dan hambatan, demikian juga mereka yang mendambakan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang cerdas beriman. Anda semua diharapkan menjadi pribadi yang tekun dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan. “Tekun adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahan  dan terus-menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 27-28). Daya tahan generasi masa kini sungguh merosot jika dibandingkan dengan generasi pendahulunya, karena pengaruh makanan dan minuman yang dikomsumsi setiap hari. Sikap mental instant yang menjadi nyata dalam hal makan dan minum maupun berkomunikasi secara pelan dan mantap telah mempengaruhi daya tahan generasi masa kini: ada tantangan, masalah atau hambatan sedikit atau kecil saja langsung mundur atau putus asa, mengeluh dan menggerutu. Maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua untuk sedini mungkin membiasakan anak-anak di dalam keluarga dalam hal melatih diri daya tahan phisik  dan mental. Fungsikan anak-anak sesuai dengan kemampuan dan kesempatan dalam memenuhi kebutuhan hidup bersama sehari-hari, dan hendaknya jangan dimanjakan. Berbagai bentuk pemanjaan terhadap anak-anak akan membuat mereka lemah dan rapuh dalam daya tahan, sehingga juga tidak memiliki ketekunan. Ada pencobaan sedikit langsung jatuh dan hancur.
“Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.” (Mzm 119:67-68.71-72)
Ign 13 Februari 2012
*) Sumber Millis KD

Sabtu, 11 Februari 2012

"HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini”

(1Raj 12:26-32; 13:33-34; Mrk 8:1-10)
Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.” (Mrk 8:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan Hari Orang Sakit Sedunia hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Orang-orang yang menderita kelaparan atau sakit kiranya akan menggerakkan hati orang beriman untuk berbelaskasih kepada mereka, sebagaimana Yesus yang HatiNya tergerak oleh belaskasih karena ribuan orang kelaparan. Maka dalam rangka mengenangkan Hari Orang Sakit Sedunia ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian, umat beriman, untuk mawas diri: sejauh mana kita memiliki belaskasih terhadap saudara-saudari kita yang menderita sakit maupun kelaparan. Berbelaskasih antara lain dapat diwujudkan dengan memberi perhatian, misalnya mendatangi atau mengunjungi, mendoakan, memberi sumbangan sesuai dengan yang dibutuhkan dst.. Dengan memberi perhatian macam itu, percayalah bahwa anda tidak akan menjadi miskin atau bangkrut, melainkan akan semakin diperkaya, tidak hanya secara spiritual atau rohani tetapi juga secara phisik atau jasmani. Secara spiritual atau rohani berarti kita akan menjadi semakin peka terhadap orang lain, terutama mereka yang sungguh membutuhkan bantuan atau perhatian. Secara phisik atau jasmani kita akan semakin bertatap muka dan bercurhat dengan banyak orang dan dengan demikian tambah kenalan atau sahabat. Dalam rangka mengenangkan Hari Orang Sakit Sedunia hari ini kiranya kita yang sehat diharapkan mengunjungi saudara-saudari kita yang sedang menderita sakit. Maka jika tidak ada kenalan anda yang sedang menderita sakit, silahkan anda berkunjung ke rumah sakit terdekat untuk menyapa dan mendoakan secara langsung mereka yang sedang terbaring di rumah sakit. Dalam rangka mengunjungi orang sakit hendaknya tetap setia ‘mengunjungi’, jangan berkotbah atau memberi pertanyaan-pertanyaan kepada mereka yang sedang menderita sakit. Kehadiran dan sapaan singkat anda sungguh merupakan kegembiraan bagi mereka.
·    "Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.” (1Raj 12:26-27), demikian keluh kesah raja Yeroboam, yang kurang beriman atau bahwa lebih berbakti kepada berhala daripada Tuhan. Orang yang kurang atau tidak beriman memang mudah mengeluh dan mengesah, demikian juga orang sakit yang kurang beriman pasti dengan mudah mengeluh dan mengesah karena penyakitnya. Kepada anda yang sedang menderita sakit kami ingatkan: jangan mudah mengeluh dan mengesah, melainkan berpasrahlah kepada Tuhan serta bersyukur kepada Tuhan. Mengapa saya mengajak bersyukur kepada mereka yang sedang menderita sakit? Bukankah dengan menderita sakit kita dingatkan betapa arti hidup ini, sedangkan ketika kita sedang sehat-sehat saja tidak pernah mengenangkan arti hidup ini. Dengan kata lain bagi anda yang sedang menderita sakit kami harapkan memanfaatkan keheningan di rumah sakit atau di kamar sakit untuk merenungkan dan mawas diri perihal arti hidup di dunia ini. Untuk apa saya hidup, untuk apa saya diciptakan oleh Tuhan? Percayalah jika anda tidak mengeluh atau mengesah ketika sedang menderita sakit, maka anda akan cepat sembuh, apalagi ketika anda memanfaatkan waktu sakit untuk merenungkan arti hidup, yang dianugerahkan oleh Tuhan.
“Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir:perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau
(Mzm 106:19-22).
Ign 11 Februari 2012
*) Sumber Millis KD