Kamis, 24 November 2011

“Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataanKu tidak akan berlalu."

(Dan 7:2-14; Luk 21:29-33)
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Luk 21:29-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Segala sesuatu yang ada di bawah kolong langit atau di bumi ini memang tidak abadi, sementara sifatnya, termasuk manusia sebagai ciptaan terluhur atau termulia di bumi ini. Namun  sabda Tuhan tidak akan berlalu begitu saja. Kita semua tahu bahwa sabda Tuhan yang tertulis sekian abad yang lalu sampai kini masih berlaku dan up to date, tak pernah dilupakan orang, sementara itu manusia serta karya-karyanya dengan mudah berlalu dan dilupakan orang. Kita semua kiranya mendambakan apa yang tahan lama atau tidak akan mudah berlalu atau dilupakan, maka marilah kita miliki dan hayati sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Kiranya tidak perlu seluruh isi Kitab Suci dikuasai dan dihayati, tetapi cukuplah ada ayat-ayat yang mengesan bagi kita masing-masing sungguh kita miliki dan hayati. Sebagai contoh kiranya adalah ajaran perihal kasih, karena kasih juga bersifat tak terbatas, maka perkenankan saya mengangkat ajaran kasih Yesus untuk kita refleksikan dan hayati. “ Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Luk 6:27).  Perihal saling mengasihi kiranya kita semua tahu bahwa kapan kita mulai dan mengakhiri dalam saling mengasihi kita tidak tahu sama sekali. Ambil contoh: apakah anda sebagai suami-isteri tahu persis kapan mulai mengasihi pasangan anda dan akan berakhir dalam mengasihi? Kiranya tak ada yang tahu. Maka marilah kita perdalam dan perkuat penghayatan sabda Yesus di atas ini: saling mengasihi dan berbuat baik dengan dan kepada siapapun, dimana pun dan kapan pun tanpa pandang bulu. Ingatlah dan sadari bahwa jika selama hidup di dunia ini sungguh saling mengasihi dan berbuat baik, maka ketika kita telah mati dan menjadi tanah kembali kita pasti terus dikasihi dan dibaiki oleh orang lain, saudara-saudari kita yang telah kita kasihi dan kepada mereka kita senantiasa berbuat baik.
·   Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:13-14), demikian penglihatan Daniel, orang yang setia pada imannya, setia pada kehendak dan perintah Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun. Kiranya kita semua mendambakan sebagaimana dilihat oleh Daniel tersebut, yaitu nama baik kita tak akan musnah alias nama kita senantiasa dikenang atau diabadikan seperti para santo-santa atau pahlawan, yang namanya diabadikan untuk nama baptis atau nama bangunan dan jalan. Bukankah para santo-santa atau pahlawan menghayati cara hidup dan cara bertindak tidak untuk kepentingan pribadi atau golongan, melainkan demi keselamatan atau kesejahteraan umum/bersama? Hidup mengasihi dan berbuat baik memang berarti hidup dan bertindak demi keselamatan atau kesejahteraan umum. Kami berharap kepada para pemimpin di tingkat dan bidang kehidupan apapun dapat menjadi teladan dalam cara hidup dan cara bertindak demi keselamatan atau kesejahteraan umum/bersama. Maka secara konkret kami ingatkan lagi para orangtua atau bapak-ibu: hendaknya orangtua dapat menjadi teladan cara hidup dan cara bertindak demi keselamatan atau kesejahteraan umum bagi anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka. Ketika anak-anak menerima teladan macam itu dan juga dididik untuk itu, maka kami yakin kita semua akan hidup saling mengasihi dan berbuat baik. Para orangtua jika mendambakan namanya senantiasa dikenang oleh anak-cucu, cicit dan canggah atau keturunannya hendaknya mendidik dan membina anak-anaknya untuk hidup saling mengasihi dan berbuat baik dengan teladan konkret setiap hari.
“Pujilah Tuhan, hai gunung-gemunung, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala tumbuhan di bumi, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segenap mata air dan bukit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai lautan dan sungai, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai raksasa lautan dan segala apa yang bergerak di dalam air, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai unggas di udara, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala binatang buas dan ternak di bumi, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.” (Dan 3:75-81)
Ign 25 November 2011
*) Sumber Millis KD

Selasa, 22 November 2011

“ Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah."

(Dan 5:1-6.13-14.16-17.23-28; Luk 22:12-19)
Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan atas yang besar yang sudah lengkap, di situlah kamu harus mempersiapkannya." Maka berangkatlah mereka dan mereka mendapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah. Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah." Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: "Ambillah ini dan bagikanlah di  antara kamu. Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang." Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:12-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   “Kegenapan dalam Kerajaan Allah” artinya saat Yesus mempersembahkan Diri seutuhnya dengan wafat di kayu salib demi keselamatan dan kebahagiaan kita semua, terutama jiwa kita. Maka pada akhir tahun Liturgi ini kita juga dipanggil untuk mawas diri : sejauh mana setelah mengarungi perjalanan iman selama ini kita siap sedia untuk mempersembahkan diri kepada Allah melallui saudara-saudari atau sesama kita demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun jiwa orang lain. Yesus mempersiapkan diri dengan makan bersama dengan sahabat-sahabatnya, para rasul, sebagai ajakan bagi mereka untuk meneladanNya. Marilah kita mawas diri apakah hati, jiwa, akal budi dan tenaga atau tubuh kita sungguh telah kita baktikan sepenuhnya kepada Allah melalui pelayanan bagi sesama atau saudara-saudari kita. Dalam hal ini kiranya para suami-isteri atau bapak-ibu telah memiliki pengalaman dalam saling menyerahkan diri atau mengasihi satu sama lain, maka kami berharap pengalaman tersebut terus diperdalam dan disebarluaskan dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari serta kami berharap para orangtua dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam saling menyerahkan atau membaktikan diri sepenuhnya. Kepada para pelajar atau mahasiswa kami ajak mawas diri apakah sungguh-sungguh membaktikan diri untuk belajar, mengerahkan waktu dan tenaga sepenuhnya untuk belajar sehingga semakin terampil belajar; demikian para pekerja kami harapkan sungguh mengerahkan waktu dan tenaga terhadap pekerjaan yang dibebankan atau yang menjadi tanggungjawabnya. Semoga kita semua juga siap sedia sewaktu-waktu harus mempersembahkan diri secara total kepada Allah artinya dipanggil Allah sewaktu-waktu alias meninggal dunia.
·   Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: "Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda? Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa. Kepadaku telah dibawa orang-orang bijaksana, para ahli jampi, supaya mereka membaca tulisan ini dan memberitahukan maknanya kepadaku, tetapi mereka tidak sanggup mengatakan makna perkataan itu.” (Dan 5:13-16). Pada diri Daniel memang “terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa”, sehingga sanggup membaca tulisan dan mengatakan makna tulisan atau perkataan itu, sementara orang-orang bijak lainnya tak mampu. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk seperti Daniel, yang memiliki kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa. Untuk itu kiranya kita harus bekerja keras belajar terus-menerus melalui aneka cara atau bentuk, entah belajar di sekolah/perguruan tinggi atau belajar dari kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari kiranya banyak hal dan peristiwa yang dapat menjadi sarana atau wahana pembelajaran kita. Maka marilah kita dengan rendah hati membuka mata dan telinga kita untuk mencermati aneka hal dan peristiwa guna mengambil apa-apa yang dapat mendewasakan pribadi maupun iman kita, sehingga kita cerdas beriman. Orang yang cerdas beriman di mana pun dan kapan pun akan fungsional untuk menyelamatkan diri, saudara-saudari maupun lingkungan hidup dan kerjanya. Marilah kita bekerjasama, saling membantu dalam mengusahakan kecerdasan beriman atau kecerdasan spiritual.
“Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.Pujilah Tuhan, hai segala bintang di langit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala hujan dan embun, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala angin, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai api dan panas terik, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai kedinginan dan pembekuan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya” (Dan 3:62-67)
Ign 23 November 2011 
*) Sumber Millis KD

Senin, 14 November 2011

"Tuhan supaya aku dapat melihat!"

(1Mak 1:10-15.41-43.54-57.62-64; Luk 18:35-43)
Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.” (Luk 18:35-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ibni.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Mata merupakan salah satu indera kita yang penting, karena dengan penglihatan yang baik kita akan menyaksikan aneka keindahan alam, sesama manusia yang tampan atau cantik dst.. sebagai ciptaan Tuhan, apalagi melihat dalam dan dengan kaca mata iman. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan seorang buta yang mendengar Yesus melewatinya dan kemudian mohon “Tuhan, supaya aku dapat melihat”, dan karena imannya orang buta itu pun disembuhkan serta kemudian dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Memang orang buta pada umumnya dianugerahi kepekaan mendengarkan dengan baik, sehingga ia dapat mendengarkan aneka suara di lingkungan hidupnya dengan baik. Alangkah indahnya jika kita semua dapat mendengarkan dan melihat dengan baik. Kami percaya mayoritas dari kita tidak buta dan tidak tuli, namun apakah dapat mendengarkan dan melihat segala sesuatu dengan baik dapat dipertanyakan. Agar kita dapat mendengarkan dan melihat dengan baik dibutuhkan kerendahan hati, tanpa rendah hati kita tak akan dapat melihat dan mendengarkan dengan baik. Rendah hati juga merupakan salah satu perwujudan iman yang utama. Beriman berarti membuka diri sepenuhnya terhadap Penyelenggaraan Ilahi, sedangkan rendah hati adalah ‘sikap dan perrilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Marilah kita dengarkan dan lihat segala sesuatu di lingkungan hidup dan kerja kita dengan rendah hati.
·   Di masa itu tampil dari Israel beberapa orang jahat yang meyakinkan banyak orang dengan berkata: "Marilah kita pergi dan mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa di keliling kita. Sebab sejak kita menyendiri maka kita ditimpa banyak malapetaka." Usulnya itu diterima baik.Maka beberapa orang dari kalangan rakyat bersedia untuk menghadap raja. Mereka diberi hak oleh raja untuk menuruti adat istiadat bangsa-bangsa lain” (1Mak 1:11-13). Para penjahat memang cenderung untuk hidup menyendiri, menjauhi sahabat-sahabatnya dan bekerja sama dengan orang lain, yang sama-sama berkehendak jahat. Mereka lebih suka bekerjasama dengan orang asing daripada saudara-saudarinya sendiri, dengan kata lain meereka membutakan diri terhadap saudara-saudarinya. Rasanya di lingkungan hidup kita juga ada orang-orang yang bertindak demikian; mereka akrab dengan orang-orang lain di luar keluarga atau komunitasnya, tetapi tak bersahabat dengan saudara-saudari sekeluarga atau sekomunitas. Dengan kata lain mereka kurang atau tidak beriman: mampu melihat apa yang jauh, tetapi buta terhadap yang dekat; terhadap orang lain kelihatan melayani namun yang benar adalah menindas atau menguasai. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak meniru orang-orang yang demikian itu, melainkan marilah dengan rendah hati, cermat dan teliti serta tekun saling melihat dan mengakui alias mengimani apa yang baik di antara saudara-saudari kita sekeluarga, sekomunitas atau setempat kerja. Jika kita dapat dengan terampil mengasihi yang dekat dengan kita, maka terhadap otang lain akan melayani dan membahagiakan, sebaliknya jika kita tak mampu mengasihi yang dekat dengan kita, maka terhadap yang lain akan menindas dan menguasai alias mencelakakannya. Para pemimpin hendaknya peka melihat anak buahnya yang berkehendak jahat, dan sedini mungkin dicegah agar mereka tidak berbuat jahat.
“Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu. Tali-tali orang-orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan” (Mzm 119:53.61)
Ign 14 November 2011
*) Sumber millis KD